Oleh: Qomariah (Aktivis Muslimah)
Di setiap tahunnya umat muslim mengadakan hari besar, yaitu Idul Fitri 1447 H, maka seharusnya setiap fasilitas dan infrastruktur harus diperbaiki dengan baik dan benar, karena masyarakat akan melakukan yang namanya mudik lebaran.
Seperti arus mudik di jalur selatan Nagreg mengalami peningkatan signifikan menjelang hari raya Idul Fitri 2026, sehingga kemacetan panjang terpantau di sejumlah titik, terutama di kawasan Cicalengka dengan antrian kendaraan yang mengular hingga mencapai 5 km.
Sebab, lonjakan volume kendaraan pemudik menjadi penyebab utama, ditambah adanya penyempitan jalur di beberapa titik krusial. Selain itu, banyaknya persimpangan menuju pemukiman warga serta aktivitas keluar- masuk kendaraan di rest area turut membuat arus lalu lintas tersendat.
Berdasarkan data Dishub Kkabupaten Bandung, lebih dari 190 ribu kendaraan telah melintasi jalur selatan Nagreg pada puncak arus mudik tahun ini, kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor dari arah Bandung dan Jakarta, mendominasi jalur menuju Jawa barat selatan hingga Jawa Tengah. Metrotv.com (19/3/2026).
Permasalahan kecelakaan dan kemacetan parah, menjelang saat mudik dan balik lebaran selalu berulang setiap tahunnya. Di mana kemacetan dan kecelakaan saat mudik ini telah memakan korban jiwa yang tidak sedikit.
Sangat disayangkan, seharusnya dari pemerintah untuk mengatasi kecelakaan dan kemacetan jalan para pemudik menjelang lebaran, harus diupayakan dengan serius karena ini menyangkut nyawa manusia.
Tapi mengapa kecelakaan dan kemacetan parah, selalu terjadi setiap tahunnya, karena tidak ada keseriusan dari pemerintah untuk mengatasi dan memperbaiki fasilitas para pemudik, cuma hanya ada upaya teknis yang tidak mencukupi.
Mengenai permasalahan mudik lebaran, berkaitan erat dengan minimnya layanan transportasi massal yang nyaman dan murah, sehingga jumlah kendaraan pribadi melampaui pertumbuhan panjang jalan, apalagi kondisi jalan juga banyak yang rusak sehingga rawan kecelakaan.
Mengapa setiap tahunnya para pemudik selalu minim dalam pelayanan transportasi massal, inilah bahwa negara dalam sistem kapitalisme tidak mewujudkan fungsi raa’in yang mengurusi rakyat. Sehingga negara abai menjamin keselamatan rakyatnya.
Rasulullah SAW bersabda; “imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari).
Kembali kepada sistem Islam (Khilafah) dapat mengatasi pelayanan transportasi yang baik dan benar, bahwa sistem Islam (Khilafah) yang mampu mewujudkan fungsi dalam mengurusi rakyat, dan dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi umat.
Sebagaimana disabdakan, Rasulullah SAW: “Sesungguhnya imam itu adalah perisai, di belakangnya orang-orang berperang dan berlindung” (HR. Bukhari-Muslim).
Pemimpin wajib bertakwa dan menjaga umat dari bahaya musuh, baik dari luar maupun dari dalam, adapun makna Junnah (Perisai atau pelindung), artinya pemimpin wajib melindungi agama dan mengatur urusan dunia rakyatnya.
Negara juga dengan sigap, menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah bahkan gratis dalam jumlah yang mencukupi, dan negara juga menyediakan jalan yang cukup dan memperbaiki yang rusak sehingga aman dan nyaman bagi pengguna jalan. Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab.











