Oleh : Eci Anggraini, Pendidik Palembang
Seorang bocah bernama Hamad Izan Wadi berusia 8 tahun di Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia diduga setelah melakukan aksi freestyle yang terinspirasi dari game online.Siswa sekolah dasar (SD) itu kemudian mengalami cedera parah di bagian leher, diduga tulang lehernya patah.
Kapolsek Lenek, Ipda Alam Prima Yogi, mengatakan korban sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, setelah menjalani perawatan medis, nyawanya tak tertolong pada Minggu (3/5).“Iya benar terjadi di wilayah Lenek. Peristiwa freestyle-nya sudah lama sebelum korban akhirnya meninggal di rumah sakit,” kata Yogi (Kumparan News, Kamis, 7/05/2026).
Jika kita cermati, anak-anak pada usia tersebut memiliki nalar yang belum sempurna. Mereka cenderung menelan mentah-mentah apa yang mereka lihat karena dianggap menarik atau menantang, tanpa mampu mempertimbangkan risiko atau dampak fatal di baliknya. Ketika konten kekerasan atau aksi ekstrem bebas diakses, anak-anak menjadikannya sebagai standar permainan baru yang dianggap keren.
Faktor utama yang memicu hal ini adalah lemahnya pendampingan orang tua. Di era digital, orang tua sering kali memberikan akses ponsel pintar tanpa batas sebagai cara instan untuk membuat anak tenang. Padahal, tanpa pengawasan ketat, informasi yang masuk ke benak anak bisa bersifat destruktif dan membahayakan keselamatan fisik mereka.
Namun, persoalan ini tidak bisa hanya diletakkan di pundak orang tua. Lingkungan masyarakat dan, yang paling utama, negara memiliki peran krusial yang saat ini tampak absen. Hingga kini, negara belum efektif dalam memfilter konten media sosial maupun game online yang membahayakan.
Inilah dampak nyata dari sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, orientasi utama adalah keuntungan materi. Selama sebuah platform atau game menghasilkan cuan, dampak buruk bagi moral maupun keselamatan fisik generasi sering kali diabaikan. Negara hanya bertindak sebagai fasilitator pasar daripada menjadi pelindung rakyat. Alhasil, imbauan-imbauan dari kepolisian, psikolog, hingga KPAI hanya menjadi pemadam kebakaran setelah api tragedi sudah menghanguskan nyawa.
Memahami tujuan hidup adalah solusi untuk kehidupan sekuler yang serba bebas seperti saat ini. Di tengah tujuan hidup yang abu-abu, enggak jelas, penting bagi kita untuk kembali memahami hakikat kehidupan.
Merevisi tujuan hidup yang sebelumnya hanya bersandar pada kebahagiaan jasadi. Kita wajib memahami bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah Allah semata. Konsekuensi dari tujuan hidup ini adalah terikat dengan hukum syarak. Landasan perbuatan kita semata untuk meraih rida Allah, bukan tepuk tangan manusia.
Hal ini akan menjadikan standar-standar kebahagiaan ala manusia pada umumnya menjadi tidak bernilai. Decak kagum, sorak-sorai manusia dan sejenisnya tidak ada nilainya saat Allah dan Rasul tidak rida dengan suatu perbuatan.
Dunia ini fana dan penuh fatamorgana. Apa yang menurut kita membahagiakan, realitasnya bukanlah penentu kebahagiaan. Sensasi apa yang dirasakan dari melukai diri sendiri? Tidak ada selain rasa sakit dan halusinasi. Ya, halusinasi saat berpikir bahwa kita adalah sosok yang keren dan gaul. Setelah itu, semuanya akan kembali seperti semula. Sementara itu, tubuh sudah merasakan sakit akibat luka yang disengaja.
Agar hidup tidak terus-terusan dalam halusinasi, yuk, mari kembali memahami tujuan hidup. Sayang banget menghabiskan masa muda hanya untuk mengikuti tren yang nirfaedah. Ingat, ajal tidak memandang usia. Masa muda bukan jaminan untuk menahan datangnya ajal.
Untuk memahami tujuan hidup hakiki, mulailah mempelajari Islam. Carilah circle yang tepat untuk mengukuhkan diri agar hidup sesuai aturan Allah. Ini karena pada masa yang penuh godaan ini, istikamah dalam ketaatan adalah barang mahal yang sulit digenggam.
Jika putus asa melanda, yakinkan bahwa itu merupakan bagian dari ujian yang harus dilewati. Tidak boleh waktu terlewat kecuali untuk mempelajari Islam dan turut mendakwahkannya. Berat? Mungkin. Akan tetapi, keimanan akan menguatkan langkah dalam menapaki tujuan hidup yang hakiki. Wallahualam bissawab.








