Persatuan Umat Muslim Melahirkan Kemenangan Hakiki

Oleh: Qomariah (Aktivis Muslimah)

Derita Gaza sesungguhnya belum sirna, akan tetapi, karena berbagai persoalan yang melanda kaum muslim, persoalan Gaza seperti tenggelam dan dilupakan. Padahal pencaplokan dan genosida yang  dilakukan zion*s Yahudi terhadap penduduk Gaza masih berlanjut.

Bahkan militer zion*s Yahudi diam-diam membangun tembok tanah raksasa yang membela jalur Gaza. Warga Gaza semakin terdesak ke jalur sempit di pesisir, tembok dibangun setelah zion*s Yahudi dilaporkan terus mencaplok sebagian Gaza dengan memundurkan penanda garis kuning sejak akhir 2025. Pada pertengahan 2026, sejumlah menteri garis keras zion*s Yahudi mengungkap rencana pembangunan pemukiman ilegal di Gaza Utara.

Warga menyaksikan ekskavator pasukan keamanan zion*s Yahudi merobohkan rumah warga Palestina yang disebut dibangun tanpa izin di desa sa’ir, sebelah timur Hebron, wilayah pendudukan tepi barat, bahkan warga juga mencari barang-barang mereka di antara puing-puing rumah warga Palestina yang dirobohkan pasukan keamanan zion*s Yahudi. Kompas.id (Selasa,21/7/2026).

Keputusan H4m45, kemungkinan dimaksudkan sebagai tekanan politik terhadap zion*s Yahudi sekaligus untuk menarik perhatian Donald Trump. Dengan cara ini, H4m45 ingin menunjukkan kesediaan mereka untuk menyerahkan urusan pemerintahan dan membuka peluang rekonstruksi Gaza secara damai.

Direktur jenderal kantor media pemerintah, dalam konferensi pers yang diliputi Al- Jazeera (6/7/2026) berharap langkah penting tersebut dapat menghentikan agresi, mengakhiri genosida, memastikan penarikan pasukan zion*s Yahudi dari Gaza, membuka kembali perbatasan bagi masuknya bantuan, serta mengakhiri kebijakan kelaparan.

Sejak gencatan senjata yang dimediasi AS (11/2025), tercatat sedikitnya 1.005 warga Gaza meninggal. Secara keseluruhan, sejak zion*s Yahudi menyerang Gaza (11/2023), jumlah korban jiwa mencapai 73.098 orang. Selain itu, entitas zion*s Yahudi masih menguasai sekitar 70% wilayah Gaza yang terkepung, memaksa muslim Palestina bertahan di kawasan kecil yang padat dan terbatas.

Sebagaimana diketahui, AS menginisiasi board of peace (BoP) dengan menekankan prinsip-prinsip yang tampak melemahkan para pejuang Islam di Gaza. Prinsip tersebut menekankan bahwa Gaza harus memiliki otoritas tunggal, yakni menghapus dualisme kekuasaan antara H4m45, otoritas nasional Palestina (ONP), dan faksi lainnya.

Selain itu, menurut BoP, Gaza juga harus memiliki hukum tunggal dan senjata tunggal dengan menciptakan sistem legal yang konsisten, diakui secara internasional, serta mengakhiri fragmentasi militer dengan mengonsolidasikan seluruh persenjataan di bawah kendali NCAG.

BoP diklaim sebagai jalan menuju rekonstruksi Gaza dan stabilitas politik. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya, BoP hanyalah ilusi sekaligus harapan kosong. Di tengah proses perdamaian zion*s Yahudi tetap melancarkan bombardir terhadap Gaza, fakta ini membuktikan kegagalan BoP dalam mewujudkan gencatan senjata dan perdamaian. Sebaliknya, krisis kemanusiaan kian para karena warga Gaza makin terdesak ke wilayah kecil dengan kepadatan tinggi.

Hanya saja, kaum muslim juga perlu mewaspadai perihal mundurnya H4m45 dari panggung administratif. Kekuatan rakyat Gaza bisa melemah setelah H4m45, yang selama ini menjadi garda terdepan dalam melawan agresi zion*s Yahudi, tidak lagi memiliki otoritas kekuasaan. Selain itu, ruang bagi agenda”New Gaza”yang dimotori AS kian terbuka lebar.

Kejahatan zion*s Yahudi terhadap Gaza terbukti sangat  biadab dan menjijikkan, ketika Trump dengan BoP-nya sedang fokus pada demiliterisasi dan pembangunan “New Gaza,” zion*s Yahudi terus memborbardir tepi barat dengan ribuan serangan membara. Bahkan, genosida dalam senyap terus berlangsung di tepi barat, bahkan kekerasan dan teror pemukiman di tepi barat terus meningkat.

Bahkan dalam sebulan mencapai 2.256 kali serangan, pembakaran dan penghancuran masjid mencapai rekor tertinggi. Invasi dan aneksasi besar-besaran di tepi barat terus dilakukan, lebih dari itu otoritas zion*s Yahudi telah berencana membangun 2.300 unit pemukiman ilegal di Yerusalem Timur, sekalipun PBB dan dunia mengecam, tapi nyatanya, zion*s Yahudi  jalan terus melakukan genosida, teror dan perampasan wilayah di tepi barat.

Ironisnya, negara-negara Barat, PBB dan para pemimpin muslim hanya menonton tanpa daya. Zion*s Yahudi hanya berpenduduk 9,4 juta jiwa, sedangkan umat Islam mencapai lebih dari dua miliar. Namun, Alih- Alih membela, sebagian pemimpin muslim justru makin mempererat hubungan diplomatik dengan zion*s Yahudi, bahkan berencana mengakui keberadaan negara ilegal tersebut. Padahal, zion*s Yahudi tidak memiliki tanah yang sah secara historis para pemimpin dunia islam malah terlihat membiarkan rakyat Palestina menghadapi derita sendirian.

Kewajiban umat Islam, apabila saudara muslimnya mengalami penderitaan dan kelaparan, maka sesama muslim harus bertanggung jawab bagi seluruh umat muslim lainnya.

Rasulullah SAW bersabda;”seorang muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.Ia tidak akan menzaliminya dan tidak membiarkannya ditindas, barang siapa menolong kebutuhan saudaranya, Allah akan menolong kebutuhannya. Barang siapa meringankan kesusahan saudaranya, maka Allah akan meringankan kesusahannya di hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.”(HR. Bukhari).

Umat Islam harus sadar bahwa genosida dan kelaparan di Gaza adalah kenyataan pahit yang menuntut tanggung jawab kita, jika kita acuh dan tidak memberi pertolongan, niscaya tangisan anak-anak Gaza dan penderitaan para janda serta orang tua akan menjadi beban hisab kita di akhirat kelak.

Maka Bantuan pangan dan medis memang dibutuhkan, namun kebutuhan yang paling mendesak adalah mengakhiri penjajahan Zion*s Yahudi. Dan itu tidak bisa dicapai tanpa persatuan umat dan keberanian mengirimkan kekuatan militer, sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah terlaknat itu.

Seharusnya kaum muslim menjadikan Islam sebagai sudut pandang dan solusi untuk semua persoalan, termasuk dalam krisis di Gaza. Sebabnya, keimanan pada Islam mengharuskan setiap muslim untuk selalu terikat dengan hukum-hukum syara. Mereka seharusnya yakin bahwa hanya Islam satu-satunya jalan keluar dari berbagai krisis.

Allah SWT berfirman,”tidaklah patut bagi laki-laki dan perempuan mukmin, Jika Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya, sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.”(TQS.al-Ahzab(33): 36).

Terkait genosida di Gaza sungguh telah jelas perintah Allah SWT sebagai satu-satunya solusi, yakni jihad fisabilillah untuk memerangi zion*s Yahudi dan mengusir mereka dari tanah Palestina.

Allah SWT berfirman;”siapa saja yang menyerang kalian, Seranglah ia secara seimbang dengan serangannya terhadap kalian,”(TQS.al-Baqarah(2): 194).

Karena itu sungguh telah berdosa kaum muslim, terutama para penguasa mereka yang berdiam diri dan tidak menggerakkan jihad fisabilillah untuk memerangi dan mengusir entitas zion*s Yahudi dari tanah Palestina. Haram pula membuka hubungan diplomatik dengan zion*s Yahudi, termasuk bergabung dengan BoP yang menjadi sarana mengokohkan penjajah, kondisi ini berdampak buruk, yakni penerimaan hukum dan undang-undang Barat, serta kompromi terhadap tsakofah asing.

Sebaliknya, kekuatan Islam akan menguat ketika pemikiran perasaan dan peraturan hidup mereka berlandaskan Akidah Islam, akan melahirkan kemenangan Hakiki sekaligus meruntuhkan sekat-sekat palsu (nation- state), sebagaimana sejarah membuktikan bahwa kemenangan hanya lahir dari kesatuan politik dan militer di bawah satu kepemimpinan tunggal, yaitu (negara Khilafah). Yang menghilangkan penderitaan seluruh kaum muslim, menjadikan keadaan rahmatan lil alamin seperti, yang Allah SWT janjikan. Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab.