Harga Kedelai Impor Naik, Perajin Tempe Kian Terhimpit

Oleh: Adelusiana (Aktivis Dakwah)

Pelemahan rupiah membuat harga Kedelai impor naik dan menekan perajin tahu tempe diberbagai daerah. Dikutip dari- MALANG, KOMPAS — Keuntungan perajin tempe di kota Malang, Jawa Timur, tertekan oleh naiknya harga kedelai impor dan plastik. Bahan baku kedelai terus naik beberapa waktu terakhir. Begitu pula harga plastik yang melonjak akibat kondisi geopolitik global.

Taryono (60), salah satu perajin tempe di kampung Sanan, kelurahan Purwantoro, kecamatan Belimbing menuturkan saat ini harga kedelai impor dari Amerika tembus Rp10.500 per kilogram. Harga sebelumnya masih dalam kisaran Rp9.000 per kg. Adapun harga plastik yang semula Rp35.000 per kemasan juga naik menjadi Rp51.000. (20/5/2026).

Dolar AS saat ini tembus Rp17.000 lebih, alhasil kenaikan tukar dolar AS terhadap rupiah berdampak pada kenaikan harga kedelai impor yang tembus Rp545 Ribu. Padahal, sebagian besar kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi impor dari AS.

Ketika nilai tukar rupiah terjun bebas yang pertama merasakan hantamannya bukan para spekulan di lantai bursa melainkan para perajin tahu dan tempe yang setiap subuh sudah berjibaku dengan rendaman kedelai dan uap panas penggorengan. Mereka adalah lapisan rakyat yang paling sedikit andilnya dalam menentukan kebijakan ekonomi namun paling besar menanggung akibatnya.

Inilah ironi yang setiap hari diproduksi sistem kapitalisme, di mana keuntungan mengalir ke atas sementara beban mengalir ke bawah, ketergantungan terhadap impor kedelai AS juga berakar pada logika kapitalisme global melalui perjanjian perdagangan bebas dan tekanan lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Indonesia secara perlahan kehilangan kemampuan berdiri di atas kaki sendiri dalam urusan pangan strategis.

Pada era 90-an Indonesia masih mampu memproduksi kedelai lokal secara signifikan, namun setelah pintu impor dibuka lebar dan kedelai AS yang disubsidi membanjiri pasar domestik sehingga petani lokal tidak mampu bersaing, lahan yang beralih fungsi dan ketergantungan impor menguat. Kini ketika rupiah melemah para perajin tidak punya pilihan karena kedelai lokal yang seharusnya menjadi alternatif sudah lama ditelantarkan.

Pelemahan rupiah yang terus berulang bukan sekedar persoalan fundamental ekonomi domestik, ia adalah gejala dari sistem moneter global yang sejak Bretton Woods 1944 dirancang untuk melanggengkan dominasi dolar AS. Dalam sistem ini Amerika bisa mencetak uang untuk membiayai defisitnya sendiri sementara negara lain harus bekerja keras mengumpulkan dollar melalui ekspor dan utang, lebih parah lagi sistem nilai tukar yang mengambang membuat rupiah sepenuhnya terekspos pada spekulasi pasar valuta asing.

Sementara negara merespon situasi ini dengan hanya mengambil peran sebagai regulator bukan pelindung sejati rakyatnya, dalam logika kapitalisme jika pasar memutuskan lebih efisien mengimpor kedelai dari Amerika daripada menanamnya di tanah sendiri maka konsep yang kosong dan rakyat kecil terus menjadi tumbal dari efisiensi yang hanya menguntungkan korporasi besar dan negara-negara eksportir.

Karena itu solusi atas persoalan ini adalah membuang sistem kapitalisme dan menerapkan sistem Islam, Islam menawarkan jalan keluar yang bukan sekedar alternatif kebijakan melainkan perombakan total atas pondasi yang mendasari seluruh persoalan ini.

Dalam sistem ekonomi Islam yang ditegakkan oleh negara khilafah negara bukan regulator melainkan sebagai raa’in dan junnah pengurus dan pelindung sejati seluruh rakyatnya.

Khilafah tidak akan membiarkan ketergantungan pangan strategis berada di tangan kekuatan asing karena membiarkan musuh mengendalikan kebutuhan pokok rakyat adalah kelalaian yang tidak dibenarkan syariat.

Secara konkrit khilafah akan membangun kemandirian pangan secara terencana dan menyeluruh, riset perkembangan kedelai lokal didanai oleh Baitul mall, para petani mendapat dukungan nyata berupa lahan, modal, teknologi dan jaminan harga yang adil bukan dibiarkan bersaing dengan kedelai impor bersubsidi.

Khilafah juga menerapkan kebijakan moneter berbasis emas dan perak sebagaimana yang dipraktikkan sepanjang peradaban Islam, nilai mata uang tidak ditentukan oleh spekulasi pasar, valuta asing atau kebijakan the fed melainkan dukungan emas dan perak yang nyata.

Sistem ini secara intern melindungi dari gejolak spekulatif menjaga stabilitas harga dan memutus ketergantungan pada dolar, para perajin tahu dan tempe tidak akan lagi terbangun dengan kabar bahwa biaya produksi mereka melonjak akibat keputusan Bank sentral negara asing.

Khilafah juga menutup rapat pintu bagi praktek-praktek yang dihalalkan kapitalisme namun diharamkan Islam berupa spekulasi mata uang, riba, penimbunan dan monopoli pangan, semuanya ditegakkan dengan sanksi yang nyata oleh negara. Khilafah yang menyatukan seluruh negeri muslim di bawah satu kepemimpinan akan menjadi kekuatan ekonomi yang tidak tertandingi, mengelola cadangan energi teluk, lahan pertanian subur asia tenggara dan Afrika Utara, jalur perdagangan dari selat Hormuz hingga selat Malaka, serta lebih dari dua miliar jiwa sebagai pasar domestik.

Dengan kekuatan ini khilafah tidak lagi menjadi objek eksploitasi melainkan kekuatan yang mendiktekan syarat-syaratnya sendiri dalam percaturan ekonomi global, ketergantungan kedelai impor dari Amerika adalah simbol dari kondisi umat yang terjajah secara ekonomi dan terpecah secara politik, maka solusinya adalah perubahan sistem yang menyeluruh melalui tegaknya khilafah islamiyah hanya dengan itulah para perajin tahu dan tempe akan benar-benar sejahtera. Wallahu a’lam bi ash-shawaab