Oleh : Ummu Anggun
Hujan sudah mulai mengguyur berbagai wilayah di Indonesia termasuk Kalimantan, akan tetapi bukan berarti karhutla berakhir, kalimantan tengah tercatat sebagai wilayah dengan kualitas udara terburuk di Indonesia. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) per Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 08.00 WIB, indeks pencemaran udara di provinsi tersebut melonjak hingga menyentuh angka 1.533.kalimantan tengah di sebut kota tertinggi penyumbang polusi udara terbesar di banding tujuh kota lainnya.
Bahkan angka kematian akibat polusi udara di Indonesia melonjak 42% menjadi 5.310 jiwa pada September 2026 seiring memburuknya karhuta. Sebanyak 3.560 kematian berkaitan dengan polusi akibat karhutla, dua kali lipat daripada estimasi bulan sebelumnya.
Dampak Karhutla
Mungkin bagi sebagian masyarakat dampak dari karhutla tidak begitu di rasakan secara langsung, tapi bagi sebagian yang lain karhutla ini berdampak sangat serius bagi kesehatan apalagi bagi mereka yang punya riwayat penyakit seperti asma, paru paru ,ispa dan penyakit lainnya yang rentan dengan paparan asap.
Selain dampak bagi kesehatan karhutla juga berdampak serius pada kondisi ekonomi masyarakat, terganggunya berbagai penerbangan yang merugikan berbagai pihak, para petani kehilangan lahan dan hasil panen, banyak toko-toko yang harus tutup selama karhutla dan pemulihan lahan gambut yang membutuhkan waktu begitu lama adalah sebagian kecil dampak karhutla.
Dari sektor pendidikan juga menimbulkan dampak yang luar biasa, anak anak tidak bisa bersekolah seperti biasa melainkan hanya melalui pembelajaran jarak jauh yang sifatnya online dan tidak efektif.
Dampak dari karhutla juga dirasakan oleh negara tetangga, penurunan ekosistem, rusaknya habitat hewan di hutan dan hilangnya keaneka ragaman hayati.
Mungkin jika kita amati, saat ini seiring turunnya hujan karhutla semakin berkurang tapi sebenarnya dampaknya belum akan selesai karena bersifat jangka panjang pada kesehatan dan pemulihan ekonomi.
Sistem sekuler kapitalisme adalah biang permasalahan karhutla, minimnya peralatan untuk memadamkan api dan lambatnya penanganan oleh negara menjadikan karhutla berlangsung begitu lama dan meluas. Bahkan menteri kesehatan mengatakan kita harus beradaptasi dengan asap, karhutla yang sudah demikian menyengsarakan masyarakat di anggap sesuatu yang harusnya kita nikmati.
Di dalam Islam, negara menjadikan hutan sebagai kekayaan alam yang harus kita jaga untuk kemaslahatan bersama, hutan adalah paru paru dunia yang dengannya paru paru kita juga akan sehat. Rasulullah SAW bersabda :
الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ وَالْكَلَاءِ وَالنَّارِ
Artinya: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majah)
Padang rumput termasuk hutan adalah kepemilikan bersama yang haram untuk di kuasai demi kepentingan individu.
Bisa kita bayangkan ketika hutan yang harusnya kita jaga di rusak dengan di gunduli dan di bakar maka akibatnya pasti juga akan berdampak pada kelestarian hutan dan kehidupan kita, Allah berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah tangan manusia…” (QS. Ar Rum 41).
Islam tidak membenarkan alam di eksploitasi, hutan di alih fungsikan menjadi lahan sawit untuk kepentingan para korporat, sanksi tegas harusnya diberlakukan bagi siapa saja yang melanggarnya.
Ketika negara membiarkan rakyatnya dalam keadaaan dharar dan mengancam nyawa maka sesungguhnya negara sedang melakukan kedzaliman besar terhadap rakyatnya.
Sudah seharusnya ketika bencana melanda seperti terjadinya karhutla maka negara wajib segera melakukan berbagai upaya untuk segera mengatasinya baik dengan pemadaman, infrastuktur, militer atau meminta bantuan kepada negara tetangga agar tidak meluas.
Negara juga sudah seharusnya menyiapkan pengobatan gratis kepada masyarakat yang terdampak karhutla, bukan sekedar pembagian masker tapi minim upaya penanganan hingga menjadikan banyak nyawa terancam bahkan menimbulkan kematian.
Negara sebagai penguasa tertinggi sudah seharusnya melindungi rakyatnya dari segala ancaman, memberikan rasa aman sehingga rakyat hidup tenteram dan sejahtera. Namun alih alih mengurusi rakyat justru rakyat menjadi tumbal kerakusan para penguasa dan pemilik modal.
Maka sebuah kemustahilan kita akan hidup sejahtera, aman, damai dalam sebuah sistem sekuler kapitalis, dan sudah saatnya kita campakkan sistem ini dan kembali dalam naungan negara Khilafah yang dengannya rakyat akan hidup sejahtera. Wallahu A’lam Bisshowab.














