Securitynews.co.id, PALEMBANG– Kasus pengusiran wartawan di pelantikan Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Sumsel belum selesai. Narasi damai yang beredar dibantah total oleh para korban.
Insiden yang terjadi di Gedung Parameswara, Kantor Wali Kota Palembang, Jumat (30/10/2026) itu nyata. Tujuh wartawan diusir panitia saat hendak meliput. Bukan mengada-ada.
Bantahan ini sekaligus meluruskan pemberitaan di salah satu media sosial yang mengutip inisial IY yang menyebut isu pengusiran tidak akurat. Faktanya, IY sendiri tidak berada di lokasi kejadian saat pengusiran berlangsung.
MANA PERMINTAAN MAAFNYA?
Perwakilan wartawan korban, N dan L, menegaskan hingga Sabtu (31/10/2026), tidak ada permintaan maaf formal dari panitia. “Fakta sebenarnya adalah belum ada kata-kata minta maaf terhadap wartawan yang sudah diusir. Kami mempertanyakan, kepada siapa panitia itu meminta maaf? Yang kami terima hanya narasi tujuan wartawan dipertanyakan, bukan permohonan maaf institusional,” tegasnya.
Upaya konfirmasi via WhatsApp kepada IY pun tak direspons.
MAAF JAPRI BUKAN MAAF ORGANISASI
Di tengah kebuntuan, Panitia berinisial Ibu AS tampil dengan itikad baik. Ia menyampaikan permohonan maaf secara pribadi melalui media sosial dan pesan japri kepada Mbak Nani dan Mbak Lina. “Saya, Ibu AS, atas nama pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya… Tidak ada niat sedikit pun untuk menghalangi tugas jurnalistik. Kejadian kemarin menjadi pelajaran berharga bagi saya. Saya menyadari peran media sangat penting sebagai mitra strategis KPPI,” tulis AS.
Namun, korban menilai maaf pribadi tidak cukup. Tindakan pengusiran dilakukan atas nama panitia, maka pertanggungjawaban harus dilakukan secara institusional, bukan personal.
KETUA KPPI: MEDIA ADALAH JEMBATAN
Ketua Terpilih DPD KPPI Sumsel, Hj. Zaitun, S.H., M.Kn., akhirnya buka suara. Ia menegaskan KPPI butuh media. “KPPI adalah rumah besar perempuan politik, dan media adalah jembatan kami kepada masyarakat. Kami butuh dukungan media,” tegas Zaitun.
Hingga berita ini ditayangkan, para wartawan masih menunggu satu hal: permintaan maaf resmi dan terbuka dari Panitia KPPI Sumsel secara kelembagaan. Bukan lewat belakang, bukan lewat japri, tapi secara terhormat demi memulihkan kepercayaan pers terhadap organisasi yang mengklaim memperjuangkan keterbukaan.
Laporan : Sandy
Posting : Imam Gazali








