Oleh: Qomariah (Aktivis Muslimah)
Masalahnya di kalangan Gen Z ternyata tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan teknis sehingga solusinya hanya bersifat kebijakan teknis. Problemnya justru bersifat sistemis dan paradigmatis karena menyangkut sistem kepemimpinan yang melahirkan tata aturan dalam mensolusi masalah kehidupan.
Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas yang semakin tinggi, Gen Z justru menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung menyimpan masalah secara pribadi, Gen Z kini melihat kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesejahteraan secara keseluruhan.
Kesadaran ini tercermin dari cara mereka merespon masalah emosional. Hampir setengah dari Gen Z yang mengalami gangguan kesehatan mental mengaku percaya pada layanan profesional. Seperti konsultasi, terapi, hingga penggunaan obat sebagai cara untuk pulih. Sikap terbuka ini menandai perubahan signifikan dalam cara generasi muda memandang kerentanan emosional, bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai hal yang wajar dan perlu ditangani.
Namun, di balik kesadaran tersebut, tekanan yang dihadapi Gen Z juga tidak ringan. Kekuatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama gangguan mental, dengan proporsi mencapai 60%. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian yang besar terkait karir, stabilitas ekonomi, hingga kondisi global. Data.goodstats (8/4/2026).
Pengangguran di kalangan Gen Z sudah menjadi fenomena nasional, bahkan global. Penyebabnya bukan sekedar teknis, melainkan menyangkut persoalan pradigmatis.
Kondisi ini sangat paradoks dengan visi Indonesia emas yang digadang-gadang akan mewujud pada 2045 nanti. Akankah visi itu mewujud di tengah kondisi pelemahan ekonomi, di satu sisi dan bonus demografi, di sisi lain yang terjadi secara global dan nasional.
Bahkan ancaman terbesar di tengah isu bonus demografi, pengangguran dipastikan akan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi, sosial, bahkan politik. Angka kemiskinan tentu akan meningkat dengan segala dampak yang mengikutinya, merebaknya gangguan kesehatan mental, yang ujung-ujungnya akan menyebabkan krisis generasi.
Banyak faktor yang disebut-sebut menjadi penyebab fenomena global, antara lain akibat ketidaksesuaian keterampilan, adopsi teknologi Ai yang menggeser banyak pekerjaan, dan memperparah resiko pengangguran struktural, dominasi sektor informal, serta lambatnya penciptaan lapangan kerja dibanding penambahan angkatan kerja baru.
Angka pengangguran dengan segala dampaknya, termasuk di kalangan Gen Z tetap saja jadi ancaman terbesar dalam skala global dan nasional. Hingga keberadaan bonus demografi alih-alih menjadi berkah, tapi justru menjadi ancaman petaka di masa yang akan datang, tidak dipungkiri dunia kini memang sedang dikuasai oleh peradaban yang sangat destruktif, yakni peradaban yang lahir dari sistem sekuler kapitalisme neoliberal. Sistem ini tegak di atas paham pemisahan agama dari kehidupan, yang tidak mengenal halal haram dan begitu mengagungkan kebebasan. Tidak heran jika sistem ini banyak melahirkan kerusakan.
Dengan prinsip seperti ini, siapa yang kuat atau menguasai sumber daya, dipastikan akan menangani persaingan. Tidak mengherankan jika salah satu karakter dari masyarakat sekuler kapitalistik adalah gap sosial yang terus, karena mereka yang kaya akan semakin kaya, sementara yang miskin akan semakin miskin. Hal ini diperparah dengan posisi penguasa dan pengusaha yang dalam sistem ini ditempatkan hanya sebagai regulator dan fasilitator bagi kekuatan modal.
Bahwa sistem kapitalisme memang membatasi campur tangan negara secara langsung dalam mekanisme pasar yang digadang-gadang menjadi mekanisme ideal untuk mendistribusikan kekayaan. Namun sebaliknya, sistem ini malah membiarkan sektor swasta/privat bahkan asing menguasai alat produksi dan sumber daya alam, menetapkan harga, dan menggerakkan ekonomi dengan mekanisme pasar bebas yang dijamin oleh negara. Dengan sistem kapitalisme sulit diharapkan bisa mewujudkan kesejahteraan di level masyarakat, apalagi di level orang per orang.
Adapun hubungan rakyat dengan penguasa tidak lebih dari hubungan dagang, bahkan rakyat terus diperas dengan berbagai kutipan pajak. Bahkan pendidikan juga sudah kehilangan esensinya sebagai pilar peradaban, turun derajat menjadi sekedar alat mencetak mesin pemutar roda perindustrian yang dibayar dengan harga murah. Malah menggeser peran manusia dalam kehidupan hingga menjadi petaka bagi peradaban di masa depan, termasuk merebaknya pengangguran yang berdampak merajalelanya kemiskinan. Yang namanya “Indonesia emas” hanya cuma ada di atas kertas.
Saatnya kita kembali ke sistem Islam, sebagai satu-satunya harapan. Sejatinya, Gen Z hanyalah korban sistem sekaligus korban penguasa yang abai terhadap urusan-urusan rakyatnya. Sampai kapanpun mereka akan menjadi korban jika tidak ada upaya untuk mengubah sistem sekuler kapitalisme yang terpilih gagal membawa kebaikan.
Sedangkan sistem Islam (Khilafah), sistem ini tegak di atas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Bukan hanya sebagai sang pencipta, tapi juga sekaligus sang pengatur. Itulah sebabnya, Allah SWT menurunkan seperangkat aturan untuk menjadi tuntunan bagi kehidupan manusia di semua tempat dan dari zaman ke zaman. Aturan tersebut adalah aturan Islam yang datang sebagai petunjuk dan solusi bagi seluruh masalah kehidupan.
Tidak ada satupun aspek yang luput dari aturan Islam sehingga penerapannya secara total oleh negara akan membawa rahmat bagi seluruh alam, yakni berupa kesejahteraan hingga level orang perorang. Dengan cara inilah negara atau penguasa bisa membuktikan dirinya sebagai pengurus dan penjaga di atas landasan takwa serta kesadaran bahwa amanah ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Aturan Islam menetapkan mekanisme jaminan kesejahteraan dengan sempurna, pertama mewajibkan setiap laki-laki balig untuk bekerja, dengan memiliki pendidikan yang memadai untuk memiliki bekal keahlian yang mumpuni untuk bekerja bagi para laki-laki. Tentu saja negara juga akan menciptakan lapangan kerja yang halal dan sangat luas, sekaligus menciptakan suasana yang kondusif untuk berusaha. Caranya adalah dengan menerapkan konsep kepemilikan dalam Islam.
Gen Z adalah pemuda tonggak perubahan, sejarah telah mencatat bahwa perubahan besar dimulai dari pemudanya. Para penggerak perubahan selalu diisi dengan generasi muda. Pemuda adalah tonggak perubahan dan mercusuar peradaban, dengan idealisme tinggi, fisik kuat, dan sikap berani. Dengan kesadaran politik yang tumbuh dijauhkan dari kriminalisasi. Serta Islam mengajarkan kewajiban adanya kelompok yang melakukan Amar ma’ruf nahi mungkar.
Allah SWT berfirman, “dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang mak’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (TQS.Ali Imran: 204).
Realisasi dari aktivitas Amar mak’ruf nahi Munkar, adalah mengoreksi penguasa Jika ia melanggar syariat Islam. Setiap muslim wajib melakukan Amar mak’ruf dan mencegah terjadinya kemungkaran. Dalam Islam, kritik terhadap penguasa tidak boleh dibungkam, sangat dianjurkan agar penguasa tetap berada di jalur yang benar.
Dalam sistem Islam negara membina generasi muda dengan pendidikan berbasis akidah Islam, Rasulullah SAW, melakukan pembinaan terhadap para sahabat yang mayoritas berusia muda, dengan keimanan dan ketakwaan yang kuat pada masa awal dakwah Islam. Generasi ini pun dikenal sebagai generasi emas, sahabat yang memiliki keimanan kuat dan menjadi sosok yang tangguh dan pemberani. Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab.











