Oleh: Qomariah (Aktivis Muslimah)
Semua perayaan, termasuk tradisi maulid nabi SAW, diklaim dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT. Atas kelahiran nabi Muhammad SAW, juga dalam rangka menunjukkan rasa cinta, meneladani akhlak mulia, dan mengenalkan ajaran Islam yang dibawanya kepada umat manusia. Ironisnya, selama ini acara maulidan tampak lebih kental sebagai agenda seremonial. Bahkan, saat acara masih ramai digelar, kehidupan umat Islam berjalan sangat bertentangan dengan apa yang Rasulullah SAW ajarkan.
Bulan maulid bukan sekedar momentum untuk mengenang kelahiran nabi Muhammad SAW, lebih dari itu, momen tersebut dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk kembali menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut menjadi bahasa dalam program mutiara pagi RRI pro 1 Jakarta, (Jum’at 21/8/2026),dengan tema “momentum bulan maulid sebagai bulan peningkatan kecintaan kepada nabi Muhammad SAW.”program ini menghadirkan penyuluh agama Islam KUA Tanah Abang, Muhammad Iqbal Akmaludin, S. Hum sebagai narasumber. rri.co.id(22/8/2026).
Hakikat mencintai nabi Muhammad SAW bukan sekedar rasa rindu atau ucapan lisan. Mencintai nabi Muhammad SAW harus dibuktikan dengan amal, berupa kesiapan untuk taat secara mutlak, mengikuti segala yang diajarkannya, serta menjadikan beliau sebagai teladan utama melebihi cinta kepada diri sendiri, harta, jabatan dan keluarga.
Setiap rabiul awal, umat Islam dunia memperingati maulid nabi Muhammad SAW. Namun, dari maulid ke maulid, kondisi umat Islam justru kian menjauh dari apa yang nabi Muhammad SAW ajarkan hingga mereka kehilangan predikat sebagai umat terbaik dan pemimpin peradaban. Apa yang semestinya dilakukan agar peringatan maulid menjadi jalan untuk membangkitkan kembali umat Islam?
Bahwa peringatan maulid nabi Muhammad SAW, semestinya tidak cuma basa-basi, tetapi harus dilakukan dengan apa yang nabi Muhammad SAW contohkan kepada umatnya, yaitu sesuai dengan syariat Islam.
Boleh jadi dari aspek ajaran ibadah (habluminallah) umat Islam masih banyak yang menjalankan ajaran nabi Muhammad SAW. Mereka shalat, shaum, membayar zakat, bahkan menunaikan ibadah haji. Namun, pada aspek hablumminannafsih (akhlak, makanan, minuman, dan pakaian) umat Islam banyak yang tidak peduli lagi ajaran nabi Muhammad SAW. Lihat saja, betapa problem dekadensi moral generasi kian memprihatinkan. Pergaulan bebas, perilaku menyimpang, kekerasan dan kriminalitas, menjadi masalah yang makin merajalela dengan level yang kian mengerikan.
Begitupun urusan makanan dan minuman, tidak sedikit yang abai soal halal- haram. Kalaupun mereka peduli, tidak mudah bagi umat untuk benar-benar bisa membedakan antara yang halal dan yang haram karena kesyubhatan begitu menyebar luas. Sementara itu, terkait pakaian, lumrah dalam masyarakat kita kebiasaan mempertontonkan aurat yang diharamkan Islam. Padahal, Rasulullah SAW menyatakan bahwa seluruh tubuh perempuan adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan, berdasarkan pemahaman jumhur ulama dari dalil sunnah dan penafsiran.
Allah SWT berfirman,”aurat perempuan di depan laki-laki yang bukan mahramnya adalah seluruh badan kecuali muka dan kedua telapak tangan.” (QS.An- Nur: 31).
Sedangkan aurat laki-laki adalah bagian tubuh antara lutut dan pusar.
Rasulullah SAW bersabda,”Apa yang di bawah pusar dan di atas kedua lutut adalah aurat.” (HR. Baihaqi).
Begitu pula, pada aspek hablumminannas (hubungan sosial kemasyarakatan), banyak risalah yang Rasulullah SAW bawa malah dicampakkan oleh umat Islam, Kita juga bisa saksikan dalam aspek pemerintahan hari ini, umat Islam lebih memilih sistem kufur yang menempatkan manusia sebagai pembuat hukum, dibandingkan Khilafah sebagai sistem Rasulullah SAW wariskan.
Sebagian umat hari ini tidak kenal dengan Khilafah, bahkan tidak sedikit yang membenci dan menentang perjuangannya. Sungguh, betapa wajah umat hari ini sangat jauh dari potret generasi dan umat yang berhasil dibina oleh Rasulullah SAW, yakni generasi yang berkepribadian Islam yang tinggi, serta kental visi misi hidup yang berhasil melahirkan peradaban cemerlang selama belasan abad.
Adapun visi-misi tersebut adalah berupa keyakinan dan pemahaman kuat tentang tujuan penciptaan yang melekat pada diri individu setiap muslim, menjadi hamba Allah SWT. yang wajib tunduk, patuh, dan taat secara total kepada al Khaliq. Menjadikan seorang khalifah mendapat amanah yang menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia, sekaligus memakmurkan dunia dengan menerapkan syariat Islam, Khilafah sebagai tajul furudh (mahkota kewajiban) karena hanya dengan Khilafah, syariat Islam bisa benar-benar diterapkan secara Kafah.
Bahwa kekuatan umat Islam terletak pada pemahaman Islam ideologi, yakni Islam yang bukan hanya mengajarkan urusan ritual dan moral, melainkan juga mengatur masalah aspek-aspek konseptual (fikrah), melainkan juga mengatur cara konsep ditegakkan (thariqah), keduanya bagaikan dua sisi mata uang. Menjadi pilar penegakan syariat Islam, hingga mampu menjadikan umat yang mulia (khairu ummah).
Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab.














