Securitynews.co.id, PALEMBANG– Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan, Syafitri Irwan, mengingatkan pentingnya etika dan pendekatan humanis dalam menjalankan kebijakan.
Pesan itu ia tekankan saat memimpin prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan lima pejabat di Aula Kanwil Kemenag Sumsel, Kamis (29/10/2026). “Suatu kebijakan mungkin sudah benar secara regulasi, namun jika dieksekusi dengan cara yang kurang tepat, hasilnya justru bisa berdampak negatif di tengah masyarakat,” ujar Syafitri.
Prosesi pelantikan tersebut dihadiri para Kepala Bidang, Pembimas, Kepala Kantor Kemenag Kota Palembang, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kanwil Kemenag Sumsel beserta jajaran pengurus, serta para Ketua Tim Kerja di lingkungan Kanwil Kemenag Sumsel.
LIMA PEJABAT DILANTIK
Adapun lima pejabat yang mendapat amanah baru meliputi promosi, rotasi, dan mutasi jabatan, yakni:
- Mistari Ulfa sebagai Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kemenag Kota Palembang
- Titi Oktarina Sambadha sebagai Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kantor Kemenag Kota Palembang
- Muslimin sebagai Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kemenag Kabupaten Musi Rawas
- Emil Fachruzi sebagai Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kemenag Kabupaten Ogan Komering Ilir
- Dewi Pusdikawati sebagai Pengawas Jenjang Ahli Madya Kantor Kemenag Kota Palembang
JABATAN ADALAH AMANAH
Dalam arahannya, Syafitri menegaskan bahwa rotasi, mutasi, maupun promosi merupakan hal yang lumrah dalam sistem penataan kepegawaian dan manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Promosi, rotasi, maupun mutasi adalah hal yang biasa dalam sistem kepegawaian kita. Ketika ditugaskan dan diberi amanah oleh instansi pemerintah, maka tugas tersebut harus disanggupi, disambut dengan baik, dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh,” tegasnya.
Ia mengingatkan, setiap jabatan membawa konsekuensi tanggung jawab moral dan profesional, sehingga integritas dalam menjalankan tugas pelayanan publik harus selalu dijaga di manapun ditempatkan.
Lebih lanjut, Syafitri meminta pejabat baru tidak hanya berorientasi pada aturan administratif semata, tetapi juga memperhatikan etika komunikasi dalam kepemimpinan. Menurutnya, cara penyampaian kebijakan yang keliru dapat merusak esensi kebaikan dari program itu sendiri. “Karena itu, penting bagi kita untuk selalu memanusiakan orang lain, menghindari rekayasa atau manipulasi, serta senantiasa berkonsultasi dan berkoordinasi dengan pimpinan agar apa yang kita laksanakan betul-betul dipahami dan membawa maslahat,” pesannya.
Mengakhiri arahan, Kakanwil mengajak seluruh pejabat baru untuk cepat beradaptasi, memahami batasan kewenangan di tempat tugas yang baru, serta mampu menjaga keseimbangan antara dedikasi profesional di kantor dan keharmonisan kehidupan keluarga demi terwujudnya layanan keagamaan yang semakin berkualitas di Sumatera Selatan.
Laporan : Sandy
Posting : Imam Gazali








