Oleh: Qomariah (Aktivis Muslimah)
Sistem kapitalisme tidak pernah sungguh-sungguh untuk menyelesaikan mendasar rakyat. Mengapa demikian? Persoalan sistem pendidikan saat ini tidak menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan negara.
Kondisi ekonomi yang memukul masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, sangat terasa menjelang tahun ajaran baru. Orang tua berjuang mencari uang untuk biaya pendidikan anak yang jumlahnya tidak sedikit.
Tak hanya itu, mereka juga berjibaku mencari sekolah bagi anak-anak di tengah pemberlakuan sistem zonasi untuk bersekolah negeri. Banyak orang tua dan anak menginginkan pendidikan berkualitas yang tidak selalu tersedia di zona tempat tinggal mereka. Kompas.id (23/6/2026).
Tahun ajaran baru membuat orang tua beberapa wilayah Indonesia pusing, lantaran mereka kesulitan mencari sekolah berkualitas dan murah bagi anaknya, karena adanya sistem zonasi dan biaya pendidikan yang semakin mahal (misalnya uang seragam).
Di tahun ajaran baru ini merupakan masa adaptasi bagi anak-anak maupun orang tua. Tahun ajaran baru juga bukan hanya tentang perlengkapan yang lengkap, tetapi tentang kesiapan mental, kemandirian, dan dukungan yang hangat agar anak merasa percaya diri, dan nyaman dalam menjalani kegiatan belajar di sekolah.
Seiring bergantinya regulasi, terjadi banyak perubahan di dunia pendidikan. Kurikulum, inovasi pembelajaran, sarana prasarana, juga problem ketersediaan tenaga pengajar, seakan menjadi atmosfer yang melengkapi menurunnya performa tata kelola pendidikan publik.
Orang tua siswa bukannya tidak berminat dengan sekolah negeri, terlebih biaya pendidikannya lebih terjangkau daripada swasta. Hanya saja, niat untuk memasukkan anak mereka di sekolah negeri justru terhambat regulasi yang ada. Daya tampung dan kebijakan sistem zonasi adalah: dua diantara beberapa penyebab yang menghambat peserta didik mengenyam pendidikan negeri.
Sistem zonasi yang terus menuai polemik pun memperparah kondisi ini. Kebijakan yang katanya bertujuan untuk memeratakan kualitas, justru banyak menimbulkan masalah. Alih-alih memeratakan kualitas untuk menghapus adanya kesan sekolah unggulan, kebijakan ini justru memunculkan banyak kecurangan.
Seharusnya pemerintah mengevaluasi diri dan membaca minat masyarakat. Bagaimanapun, orang tua mengharapkan anaknya memperoleh pendidikan yang layak, berkualitas, dan dengan harga terjangkau. Jika daya tampung kurang, sedangkan jalur zonasi tidak menutupi keinginan orang tua siswa, satu-satunya pilihan ya ke sekolah swasta.
Di sisi lain, tidak dipungkiri sekolah swasta terus melakukan inovasi. Bahkan, masyarakat tidak bisa menutup mata bahwa banyak diantara sekolah swasta memiliki keunggulan yang jauh melampaui sekolah negeri. Oleh karenanya tidak sedikit orang tua siswa yang memilih menyekolahkan anak mereka di sekolah swasta meski harus membayar lebih dan mendapatkan kualitas pendidikan terbaik.
Mendidik anak itu sungguh luar biasa. Tidak mudah, tiap tahapnya penuh makna dan pengorbanan. Ada kebahagiaan saat melihat mereka tumbuh dan belajar, namun ada pula letih yang tak terlihat.
Kadang, kita sudah berusaha sekuat tenaga, memberi contoh, menanamkan nilai, menyemai adab, Tapi lingkungan sekitar tak selalu mendukung. Ada saja kecolongannya, pengaruh luar tak bisa kita kontrol sepenuhnya.
Di situlah kita sadar bahwa, sebesar apapun usaha dan peran kita sebagai orang tua, hasil akhirnya bukan di tangan kita, tapi semata topik dan pertolongan dari allah SWT. Kita hanya berikhtiar sebaik mungkin melalui kasih sayang, memberi nasihat, dan doa yang tak ada ujungnya.
Mendidik anak sejatinya adalah mendidik diri untuk terus belajar sabar, ikhlas, dan tawakal kepadanya. Menyampaikan ilmu dengan dalil, antara orang tua dan anak ada hubungan kasih sayang dan amanah.
Dalam Islam, ilmu bukan sekedar kehormatan, melainkan amanah besar yang akan dihisab. Tidak ada satu kalimat ilmu yang keluar dari lisan guru, dan tidak ada satu sikap murid terhadap gurunya, kecuali akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Murid dibina dengan pembinaan berbasis aqidah Islam, untuk menguatkan pola pikir dan pola sikapnya sesuai Islam. Menjadikan kepemimpinan berpikirnya berdasarkan Islam, bagaimana gambaran generasi pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat, sehingga generasi akan berbuat, bersikap sesuai dengan apa yang Islam ajarkan.
Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang ilmunya, apa yang ia amalkan. Maka guru dan murid berdiri sejajar di hadapan hisab, berbeda peran namun sama berat tanggung jawab.
Itulah yang seharusnya diperjuangkan oleh umat Islam. yaitu, kembalinya kepada penerapan syariat Islam secara Kafah dalam bingkai Khilafah, dengan memiliki visi misi menyejahterakan rakyat, yang rahmatan lil alamin. Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab.












