Oleh: Qomariah (Aktivis Muslimah)
Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan, akhirnya membuat hidup rakyat yang kian sulit. akibat ekonomi yang kian mencekik, dan membuat sebagian para pengusaha mengalami gulung tikar.
Adapun asap tipis mengepul dari tungku rebusan kedelai produksi tempe milik Deli (66) di pondok petir, Depok Jawa Barat. (22/5/2026). Bahkan anak buah Deli cekatan mengaduk hasil rebusan kedelai yang telah dimasak selama dua hingga tiga jam dan direndam selama 24 jam.
Proses ini membantu fermentasi alami dan memudahkan pengelupasan kulit. Kedelai yang selesai digiling kemudian ditiriskan hingga kering di tempat terpisah, untuk menghilangkan kulit kedelai. Setelah kering, kedelai diberi ragi dan dicetak ke dalam plastik sesuai ukuran, untuk didiamkan selama 24 jam hingga jadi tempe siap jual. Kompas.com (23/5/2026).
Dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, membuat kenaikan harga bahan baku impor tidak terhindarkan karena sebagian besar transaksi dilakukan menggunakan dolar AS, hingga pelemahan rupiah secara langsung dan meningkatkan biaya produksi. Seperti, yang terjadi pada kacang kedelai, sehingga membuat pengusaha tempe gelisah.
Meski demikian, Prabowo Subianto merespon kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional dan pelemahan rupiah dengan sikap yang relatif tenang. Dalam pidatonya saat meresmikan museum Ibu marsinah dan rumah singgah di kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (16/5/2026), ia menyampaikan pandangan bahwa dampak fluktuasi nilai tukar dolar tidak dirasakan secara langsung oleh sebagian masyarakat, khususnya kelompok masyarakat kecil di wilayah pedesaan.
Ketidak pekaan pemerintah ini membuat banyak rakyat geram. Karena terkesan menyepelekan melemahnya rupiah, pemerintah seakan-akan tidak melihat permasalahan secara utuh.
Padahal, dampak kenaikan kebutuhan akibat kenaikan dolar tidak memandang seseorang domisilinya di mana, jika pemerintah mau sedikit saja peka dari rantai distribusi pasokan kebutuhan pokok, makin panjang rantai distribusi makin naik pula biaya yang dikeluarkan rakyat. Di pelosok, beberapa kebutuhan justru naik akibat jalur distribusi yang lebih panjang.
Perlambatan ekonomi di perkotaan juga menciptakan efek terhadap ekonomi di desa. Saat masyarakat kota mulai menahan belanja, permintaan hasil pertanian maupun produk UMKM desa ikut menurun. Jadi, mana buktinya bahwa masyarakat pelosok yang tidak terdampak kenaikan dolar? Sungguh miris, selain mengeluarkan pernyataan blunder yang minim solusi, hingga saat ini pemerintah belum tampak mengambil langkah-langkah strategis di tengah naiknya harga-harga kebutuhan pokok.
Masyarakat pada akhirnya menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problem tersebut. bahkan, kebijakan yang dibuat makin memperburuk keadaan. Untuk keluar dari lingkaran setan krisis ekonomi yang terus berulang ini, yang negara butuhkan sesungguhnya bukan sekedar mengoreksi nilai tukar, apalagi upaya-upaya tambal sulam untuk mendorong ekonomi dalam negeri.
Bahkan, kebijakan yang dibuat makin memperburuk keadaan masyarakat. pada akhirnya masyarakat menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problem tersebut. Maka problem ekonomi yang terjadi saat ini, sesungguhnya berakar pada sistem ekonomi kapitalisme yang diadopsi dunia secara global. Kapitalisme terbukti bukan sistem ekonomi yang ideal, sepanjang lintasan sejarahnya, sistem kapitalisme telah menyebabkan berbagai krisis. Seperti yang dialami oleh dunia hari ini.
Kerentanan ekonomi kapitalisme terhadap situasi ini tidak lepas dari pilar penopang ekonomi kapitalisme itu sendiri, salah satunya adalah uang. Selain menjadi alat tukar, uang juga adalah komoditas yang diperjualbelikan. Tinggi- rendahnya nilai rupiah, sangat dipengaruhi oleh jumlah permintaan dan penawaran rupiah di pasar uang. Makin banyak jumlah permintaan mata uang rupiah, makin tinggi nilai mata uang rupiah. Begitu pula sebaliknya, makin tinggi jumlah rupiah yang beredar di pasar, makin menurun pula nilai rupiahnya.
Di sisi lain, kenaikan harga uang sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap mata uang tertentu. Dalam sistem kapitalisme hari ini, nyaris seluruh mata uang bersandar pada nilai dolar. Langkah-langkah strategis yang diambil pemerintah hanya menjadi obat penenang yang tidak menyelesaikan masalah. bahkan, masalah fluktuasi harga adalah masalah berulang.
Untuk keluar dari lingkaran setan krisis ekonomi yang terus berulang ini, negara butuhkan sesungguhnya bukan sekedar mengoreksi nilai tukar, tetapi lebih lanjut negara membutuhkan koreksi dan komparasi sistemis terhadap konsep ekonomi kapitalisme. sehingga menemukan sistem ekonomi pengganti yaitu; sistem ekonomi Islam.
Islam memandang, bahwa yang terjadi dalam sistem ekonomi kapitalisme sangat Membutuhkan koreksi total. Salah satunya dari aspek mata uang yang digunakan. Sebab mata uang hari ini menerapkan prinsip ribawi, rawan spekulasi dan berbasis pada ekonomi non riil. Islam meletakkan fungsi uang hanya sebagai alat tukar saja, untuk itu Islam memberlakukan mata uang Dinar dan dirham. Selain terbukti stabil, memberlakukan mata uang Dinar dan dirham adalah implementasi dari syariat.
Keunggulan mata uang emas memiliki sejumlah signifikan dibandingkan dengan mata uang kertas. Keunggulan ini didasarkan pada fakta bahwa emas memiliki nilai fisik yang tinggi, di mana nilai nominal dan intrinsiknya setara. Selanjutnya pendistribusian kekayaan akan terealisasi secara Adil, tidak ada pemusatan kekayaan pada segelintir pihak, sehingga pertumbuhan ekonomi pun akan relatif stabil.
Dalam sistem Islam selain memberlakukan mata uang berbasis Dinar dan dirham, negara juga berperan dalam menjaga stabilitas harga-harga dengan mekanisme tertentu yang ditetapkan syariat. Seperti; larangan riba, jaminan distribusi, pengaturan kepemilikan, dll.
Dalam Islam penguasa menjadi elemen yang paling bertanggung jawab dalam menyejahterakan rakyatnya.
Rasulullah SAW bersabda, “Imam adalah pengurus dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR. Muslim dan Ahmad).
Hal ini karena dalam Islam penguasa adalah; raa’in (pengurus) sekaligus Junnah (perisai) yang wajib melindungi masyarakat dari kesengsaraan hidup.
Negara juga menjadi pihak yang berwenang dalam mendistribusikan harta melalui mekanisme zakat, infak, maupun sedekah, sesuai peruntukannya yang berstandar pada dalil syariat dan diatur dalam APBN berbasis pada Baitul mal. Dengan mekanisme ini Negara Islam akan mampu mewujudkan sistem ekonomi global yang adil dan sejahtera. Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab.












