Derita Dunia Dampak Kapitalisme Global

Oleh: Qomariah (Aktivis Muslimah)

Bahkan ada undangan perundingan, semuanya tanpa indah, padahal realitasnya pahit. Ini bukan diplomasi Untuk menghentikan kezaliman ini adalah evakuasi terhormat bagi kekuatan besar yang mulai terpojok.

Seorang analis mengatakan, bahwa pemberlakuan kembali pembatasan di Selat Hormuz oleh Iran merupakan konsekuensi langsung dari pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat. “Selat itu seharusnya dibuka berdasarkan ketentuan gencatan senjata. Blokade AS itu sendiri merupakan pelanggaran terhadap ketentuan gencatan senjata,” kata Profesor Mostafa Khoshcheshm kepada Al Jazeera dari Teheran.

Amerika juga telah membawa lebih banyak pasukan dan peralatan  pelanggaran lain. SindoNews (Minggu,19 /4 /2026).

AS dan Zion*s menyerang Iran pada (28/2/2026), serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas: militer, pemerintahan dan nuklir. Serangan ini menandai awal perang terbuka. Iran melakukan serangan balasan dengan rudal dan drone. Serangan Iran menyasar berbagai lokasi strategis Israel, juga pangkalan militer di berbagai negara teluk yang menjadi sekutu AS, Iran bahkan melakukan penutupan selat hormus untuk kapal-kapal as dan sekutunya.

Di luar dugaan, persenjataan as yang dikatakan canggih dan mahal justru dapat ditunjukkan oleh Iran. AS sudah menghabiskan US$ 12 miliar atau setara 203,8 triliun. Trump mengajukan tambahan anggaran perang, AS juga ditinggalkan oleh NATO/Eropa yang menolak membantu. Sinyal keretakan hubungan AS -Uni Eropa pun semakin menguat.

Memasuki pertengahan bulan April, kedua belah pihak sepakat memasuki tahapan perundingan damai di Islamabad, Pakistan. Akan tetapi, sebagaimana ditegaskan oleh presiden AS Donald Trump, perundingan itu gagal mencapai kesepakatan damai. Bahkan Israel justru membombardir berbagai lokasi di Lebanon, termasuk ibukota Beirut. Serangan dahsyat tersebut telah menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.165 orang.

Saat ini masa gencatan senjata AS- Iran masih berlangsung. Tetapi gencatan senjata yang dilakukan sama sekali tidak menyinggung masalah Palestina dan Gaza, Iran hanya fokus untuk kepentingan negeri mereka sendiri, diantaranya mengakhiri embargo ekonomi dan pengembangan teknologi nuklir. Ini membuktikan bahwa Iran tidak sepenuhnya mewakili kepentingan kaum muslim.

Saat Amerika mulai kelelahan menghadapi tekanan geopolitik, juga saat sekutunya terus terjebak dalam krisis berkepanjangan, tiba-tiba muncul “inisiatif damai” dari para penguasa negeri-negeri muslim. Mereka bukan untuk menyelamatkan umat, tetapi untuk menyelamatkan musuh umat.

Semuanya tanpa indah, ada permintaan penundaan perang, ajakan membuka jalur strategis, padahal realitasnya pahit. Ini bukan diplomasi Untuk menghentikan kezaliman, ini adalah  evakuasi terhormat bagi kekuatan besar yang mulai terpojok.

Siapakah yang membantu dan mengadakan diplomasi ini, dan siapa yang mengemas kekalahan menjadi “kesepakatan damai”? Jawabnya jelas; para penguasa muslim sendiri yang membuat skenario (pengkhianatan).

Satu hal yang tidak boleh lupa, sepanjang terjadinya perang Iran, kondisi umat Islam di Gaza makin menderita. Juru bicara Ham*s Hazem Qassem, dikutip Meadle East Monitor (10/3/2026), sempat menyampaikan bahwa militer zion*s justru memanfaatkan perhatian internasional terhadap konflik yang melibatkan Israel, AS, dan Libanon itu untuk mengintensifkan operasi militer di Gaza. Mereka membunuhi warga sipil, bahkan menargetkan tenda-tenda yang menampung pengungsi Gaza, mereka juga melanjutkan blokade sehingga jelas-jelas melanggar perjanjian gencatan senjata tersebut.

Di tengah konflik Iran dan AS, sungguh umat ini pun benar-benar tidak berdaya saat barat menciptakan berbagai penderitaan di dunia, ideologi kapitalisme yang merasuki otak, darah, dan daging bangsa-bangsa Barat dengan sekularisme dan liberalisme (paham kebebasan) sebagai asasnya, telah membuat mereka menjadi bangsa yang rakus dan kejam kepada sesamanya. Mereka gunakan segala cara untuk menguasai dunia, terutama dunia Islam yang punya potensi perlawanan berupa ideologi Islam, sekaligus potensi kekayaan alam melimpah ruah yang mereka inginkan.

Maka sejatinya, kekuatan umat Islam bukanlah kecil, sesungguhnya umat Islam memiliki potensi kekuatan yang sangat besar, yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Baik itu dari militernya, sumber daya alamnya (SDA), terutama minyak dan gas.

Apa yang terjadi di kawasan, termasuk perang Iran, semestinya memberi banyak pelajaran penting bagi umat Islam. Di antaranya terkait rapuhnya sistem politik kapitalisme Global di bawah kepemimpinan AS serta gagalnya sistem negara bangsa (nation state) dalam mewujudkan kebangkitan. Juga persekongkolan jahat AS-Zion*s beserta para sekutunya, baik dari negara-negara barat maupun para penguasa muslim, khususnya para pemimpin Arab yang tanpa malu memilih menjadi loyalis AS dan zion*s hingga mau bersekutu menista sesamanya.

Padahal kita tahu  perang Iran juga menunjukkan fakta, bahwa umat Islam sejatinya punya potensi kekuatan untuk melawan hegemoni kapitalisme global, umat Islam punya potensi ideologi, geopolitik, geostrategi, kekayaan alam, kemampuan SDM, bahkan potensi teknologi yang bisa dioptimalkan menjadi kekuatan penyeimbang, untuk mengalahkan lawan.

Sayangnya potensi umat yang lebih luar biasa besar ini, tidak pernah benar-benar digunakan untuk membela Islam dan kaum muslim. Sebaliknya justru potensi itu dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas sistem Global yang didominasi oleh kekuatan kafir penjajah di bawah hegemoni AS.

Inilah tragedi terbesar umat hari ini, bukan karena ketiadaan kekuatan, tetapi karena ketiadaan kepemimpinan yang menyatukan umat yaitu; (Khilafah islamiyah).

Bisa dibayangkan jika umat Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan Khilafah, tentu semua potensi yang ada akan dimobilisasi hingga dipastikan akan menggetarkan musuh-musuhnya.

Masalahnya adalah; menegakkan Khilafah tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Khilafah hanya akan tegak atas dukungan dan keridhaan mayoritas umat, sebagaimana ketika penduduk Madinah rela menyerahkan kekuasaan mereka kepada Baginda Rasulullah SAW. Dukungan seperti ini tentu akan didapat ketika umat paham bahwa konsekuensi iman adalah ketaatan total pada seluruh syariat Islam. Bukan hanya ibadah mahdho saja, tetapi secara Kaffah.  Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab.