Oleh: Titin Agustina
Peperangan semakin memanas antara AS, Israel melawan Iran. AS sebagai negara Adidaya saat ini dilanda krisis ekonomi yang cukup parah akibat menyuplai persenjataan Israel untuk melawan Iran. Masyarakat melakukan demonstrasi yang cukup besar bertajuk “NO KINGS” pada Sabtu 28 Maret 2026 waktu setempat.
Saat ini utang nasional AS resmi menembus US$ 39 triliun ( Rp 661.440 triliun) pada Maret 2026. Besarnya utang yang di tanggung AS dan menyusul lonjakan pengeluaran akibat konflik AS – Israel dan Iran. Beban utang yang besar hingga menembus sekitar Rp 1,93 miliar, artinya setiap per kepala warga AS atau setiap bayi yang lahir di AS akan menanggung beban utang sebesar Rp 1,93 miliar. Beban utang yang besar itu akan di alihkan kepada rakyat melalui pajak dan pendapatan lainnya.
Demonstrasi besar-besaran di AS menjadi fenomena yang menghawatirkan bagi perekonomian AS secara nasional maupun global. Sistem ekonomi AS kini diambang kehancuran. Jakarta, CNBC INDONESIA (28/3/2026).
Demonstrasi yang dilakukan oleh warga negara AS adalah bentuk tindakan nyata ketidakpuasan rakyat atas kinerja Donald Trump yang bersikap arogan dalam mengambil keputusan menjalankan roda pemerintahan.
Ambisi Donald Trump yang bersikap diktator dan mengabaikan kepentingan rakyatnya menjadi pergolakan yang tak terhindarkan. Gelombang “NO KINGS” adalah upaya ekspresi rakyat ingin menunjukkan bahwa tidak ada raja yang bisa berlaku semena-mena dalam kepentingan pribadinya.
Gaya kepemimpinan Donald Trump mewakili pemimpin kapitalisme liberal dan berwatak penjajah yang haus kekuasaan tanpa memperdulikan kesejahteraan rakyatnya.
Sistem demokrasi yang mengagungkan “kedaulatan ada ditangan rakyat” nyatanya hanyalah isapan jempol semata. Para pemimpin kapital sebenarnya hanya bekerja untuk kepentingan para elite (pemilik modal) dan mengabaikan kesejahteraan serta keadilan bagi warga. Sehingga gelombang demonstrasi itu hanya seperti angin lalu bagi para pemimpin kapitalisme.
Sistem ekonomi kapitalisme yang di topang oleh sektor non riil dan Ribawi. Sektor non riil yaitu perluasan fungsi mata uang dolar menjadi komoditas yang diperdagangkan dengan membeli saham-saham yang ada di pasar modal untuk bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, namun di balik itu terdapat ketimpangan ekonomi dan krisis sistemik karena sektor non riil jauh lebih cepat tumbuh dari pada sektor riil (produksi fisik).
Hutang luar negeri dengan sistem ribawi akan membebani APBN negara dalam membayar cicilan, baik itu pokok beserta bunganya dan juga mengancam kedaulatan dalam mengambil kebijakan ekonomi karena ketergantungan dengan kreditur. Hal ini menjadi pemicu krisis ekonomi AS yang berlangsung.
Negara AS sebagai corong pemegang tampuk kekuasaan sistem kapitalisme sekulerisme hanya akan menghasilkan ketimpangan ekonomi, pengangguran, kezaliman, tidak ada kesejahteraan dan juga keadilan. Namun pemimpin-pemimpin muslim masih saja menjadikan Amerika Serikat sebagai model kepemimpinan yang terbaik.
Sistem kapitalis yang membawa kesengsaraan bagi seluruh manusia tidak akan mampu memberikan kesejahteraan. Maka kita perlu merujuk pada aturan sang pencipta yang dapat membawa manusia dari kesesatan menuju cahaya.
Rasulullah SAW telah memberikan contoh dalam memimpin sebuah negara Islam selama 1.300 tahun berdiri di muka bumi untuk mengatur sistem pemerintahan dan sistem kepemimpinan. Rasulullah SAW bersabda: “Dulu Bani Israil diutus oleh para nabi, setiap seorang nabi wafat digantikan oleh nabi, namun setelahku akan ada banyak Khalifah.”
Sistem politik Islam tegak atas dasar akidah Islam dan bertujuan untuk pengurusan urusan umat berdasarkan prinsip syariat Islam. Dalam sistem ekonominya negara bertanggung jawab penuh untuk menyediakan kebutuhan pokok setiap rakyat dan keadilan juga merupakan hal yang utama yang akan dijalankan dalam sistem pemerintahan negara Islam.
Sistem politik luar negeri yang diterapkan Islam juga bertujuan untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap agama di luar Islam melalui dakwah dan jihad agar Islam bisa tersebar dan bisa di rasakan oleh seluruh manusia. Sebagaimana dulu Khalifah Umar bin Khattab pernah membebaskan Baitul maqdis (Yerusalem) pada tahun 637- 638 Masehi, 16 Hijriah.
Pada saat itu Baitul Maqdis dalam cengkeraman Patriark Sophronius pemimpin gereja di Yerusalem yang memimpin dengan penindasan, seperti memberlakukan pajak yang besar kepada rakyatnya. Namun ketika Islam hadir dan membebaskan Yerusalem dari para Gerejawan tanpa pertumpahan darah dan menghapuskan perpajakan yang selama ini mencekik mereka masyarakat pun merasakan kesehatan sesungguhnya.
Masih banyak kisah kepemimpinan Islam yang bisa membuat kita takjub dan bangga terlahir dalam keadaan Islam. Maka dari itu jangan berhenti untuk mencari tahu mengapa pada saat itu Islam berjaya dan mengapa hari ini Islam tersingkirkan.
Maka marilah kita bersama mengkaji Islam secara Kaffah agar hidup kita terarah, keberkahan dan kebahagiaan akan kita rasakan di dunia maupun di akhirat. Wallahu alam.








