BoP Topeng Diplomasi AS di Gaza

Oleh: Qomariah (Aktivis Muslimah)

Zion*s juga terus berusaha menguasai Gaza dengan melakukan serangan terhadap warga Gaza, setiap hari pasukan zion*s melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang diberlakukan sejak (7/10/2023). Akibatnya, telah menelan korban sebanyak 75.000 jiwa warga Gaza. Zion*s tidak henti-hentinya berusaha mencaplok wilayah Gaza,mereka melakukan penggusuran paksa pada warga muslim Gaza.

Perkembangan terbaru gencatan senjata atau jeda perang di Gaza menunjukkan dinamika yang kian  kompleks. gerakan Hamas menegaskan sikap tegasnya terkait kelanjutan kesepakatan, khususnya pada tahap kedua yang dinilai penuh ketidakpastian.

Seorang sumber pimpinan digerakan perlawanan Gaza, Hamas, mengatakan delegasi negosiasi gerakan tersebut akan tiba di kairo untuk mengadakan pertemuan terkait kesepakatan gencatan senjata, termasuk dengan perwakilan tinggi dari dewan perdamaian (BoP), nikolay mladenov. Inilah.com, Minggu (12/4/2026).

Istilah perdamaian terdengar netral dan menenangkan, namun, dalam politik internasional, stabilitasi keamanan jarang bermakna perlindungan terhadap pihak tertindas.

Konstruksi Gaza kembali dipromosikan sebagai pintu masuk menuju”perdamaian” dengan bahasa kemanusiaan, janji stabilitas dan wacana pengerahan”pasukan perdamaian.”ketika agenda Arab bergerak seiring dengan tekanan AS dan kebutuhan keamanan entitas zion*s, rekonstruksi Gaza tidak lagi dapat dibaca sebagai proyek netral, melainkan sebagai bagian dari arsitektur kekuasaan pasca perang.

Di tengah klaim AS yang menyatakan Tengah mendamaikan konflik Gaza – zion*s melalui  BoP militer Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melancarkan serangan hebat ke jalur Gaza Palestina,  (Rabu, 4/2/2026). Serangan tersebut menewaskan 23 orang termasuk anak-anak, dan memicu kekhawatiran atas eskalasi kekerasan di wilayah tersebut.

BoP yang diklaim bertujuan menjadi mediator internasional dalam konflik ini menyatakan akan memantau pelanggaran gencatan dan mendorong kedua pihak untuk kembali ke meja negosiasi. Namun, efektivitas lembaga ini dipertanyakan banyak pihak karena tindak serangan terhadap warga Gaza terus terjadi meski gencatan senjata resmi masih berlaku. Serangan udara terbaru dilakukan zion*s di wilayah zaitoun kota Gaza (Jumat, 6/2/2026) waktu setempat.

Dunia internasional tampak terlalu naif dalam menanggapi konflik Gaza – zion*s. Banyak pihak percaya pada janji-janji gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi AS, seolah-olah ada upaya serius untuk meredakan kekerasan, kenyataannya Israel berulang kali melanggar perjanjian gencatan senjata dengan alasan keamanan atau penumpasan kelompok bersenjata.

Hal ini menunjukkan, bahwa klaim damaian digaungkan AS dan BoP tidak lebih dari retorika diplomasi yang menutup realitas agresi militer zion*s di lapangan. Gencatan senjata dan BoP sejatinya hanyalah alat politik negara kapitalis untuk melanggengkan penjajahan Israel atas Palestina. Dengan dalih menjaga perdamaian dan keamanan. AS dan sekutunya menempatkan diri sebagai mediator tetapi sekaligus memberi zion*s ruang untuk menguasai wilayah secara strategis dan melanjutkan operasi militer.

Upaya ini memperlihatkan bagaimana kepentingan negara adikuasa lebih diutamakan dibanding keadilan bagi rakyat Gaza yang terjepit. Sementara itu penguasa negeri-negeri muslim cenderung memilih diam dan tidak bersuara lantang membela rakyat Gaza. Keengganan menunjukkan ketidakmampuan atau ketakutan menghadapi negara penjajah sekelas AS dan zion*s dengan alasan menjaga stabilitas kawasan dan mencegah konflik meluas. Lebih parah lagi beberapa dari mereka bersedia ikut bergabung dalam BoP, ini menegaskan sikap pragmatik yang mengorbankan prinsip ukhuwah umat demi keamanan politik dan kepentingan nasional.

Dalam konteks ini konflik Gaza bukan sekedar perang wilayah, tetapi juga cermin kelemahan dunia muslim menghadapi tekanan kekuatan Global. Sementara rakyat Gaza terus menanggung penderitaan tanpa ada perlindungan nyata.

Islam telah memberi arah sikap yang jelas, dalam menghadapi kecaman diplomatik terhadap pelanggaran dan kegagalan gencatan senjata.

Allah SWT berfirman: “Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di manapun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Padahal, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. (TQS.al-Baqarah: 191).

Ayat ini menjelaskan, bahwa penjajahan, pengusiran dan penindasan terhadap kaum muslim merupakan kezaliman besar, tidak boleh dibiarkan dengan kompromi tanpa batas.

Tetapi hanya bisa diatasi dengan peperangan atau jihad fii’sabilillah, oleh karena itu umat Islam harus memiliki sikap tegas dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi perdamaian semu. Gencatan senjata yang terus dilanggar menunjukkan, bahwa istilah perdamaian sering dipakai hanya sebagai strategi politik untuk melemahkan perlawanan dan memenangkan opini publik dunia, karena itu bahwa perdamaian sejati tidak mungkin berdiri di atas penjajahan sikap zero toleran terhadap propaganda yang menipu menjadi penting agar umat tidak kembali terjebak pada siklus harapan palsu.

Selanjutnya kesatuan politik umat di bawah naungan negara Khilafah merupakan kebutuhan mendesak. Kelemahan terbesar dunia muslim hari ini bukan sekedar kekurangan sumber daya melainkan terpecahnya kepemimpinan di bawah bayang-bayang nation state. negara muslim hari ini bergerak sendiri-sendiri sehingga mudah ditekan kekuatan Global padahal sejarah menunjukkan ketika umat bersatu dalam satu kepemimpinan politik yang kuat hegemoni penjajah dapat dihentikan dan keamanan kawasan terjaga secara mandiri.

Inilah tragedi terbesar umat hari ini, bukan karena ketiadaan kekuatan, tetapi karena ketiadaan kepemimpinan yang menyatukan umat secara global. Yaitu; (Khilafah islamiyah), maka upaya umat muslim hari ini memahamkan umat dan para penguasa tentang kewajiban membela kaum muslimin yang tertindas melalui jihad fisabilillah Dalam makna syar’i yang diatur hukum Islam. Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab.