oleh

Sunat Cucu, Herman Deru Curhat: Moment Ini Saya Tunggu 35 Tahun

Securitynews.co.id, PALEMBANG – Setelah menunggu selama kurang lebih 35 tahun lamanya, keinginan Gubernur Sumsel H.Herman Deru menjadi ahli hajat khitanan akhirnya menjadi kenyataan pada Sabtu (22/2/20) pagi. Berbalut nuansa budaya daerah yang sangat kental, HD akhirnya menjadi ahli hajat untuk khitanan cucu sulungnya Muhammad Mandala Sultan Persya (Danis) di Griya Agung.

Seperti diketahui Gubernur Herman Deru memang empat orang putri dalam pernikahannya dengan sang istri Febrita Lustia Herman Deru atau akrab disapa Feby Deru. Karena itu Ia sangat gembira sekali karena akhirnya bisa menggelar tasyakuran khitanan di rumahnya.

Prosesi tasyakuran itu sendiri dirancang sedemikian rupa lengkap. Dimulai dengan arak-arakan kereta kencana diiringi tanjidor dan 8 delman serta puluhan becak yang sudah dihias begitu semarak mengelilingi halaman Griya Agung.

Usai arakan, rombongan kereta kencana yanh ditumpangi “pengantin” kecil Danis dan kedua orang tuanya dr Syamsudin Isaac SpOG dan Percha Leanpuri B.Bus. MBA, berhenti di halaman teras Griya Agung disambut Gubernur Sumsel H.Herman Deru beserta Ketua TP PKK Sumsel Feby Deru diiringo tabuhan sarofal anam dan pencak silat seperti tradisi sunatan di berbagai daerah di Sumsel.

Selanjutnya pengantin kecil dan rombongan di antar sampai ke pelaminan bernuansa khas Palembang. Dengan interior kain songket yang khas.

Selain Gubernur, sejumlah pejabat dan tamu undangan tampak hadir menyambut rombongan arakan pengantin kecil itu seperti Wakil Gubernur H.Mawardi Yahya dan istri Hj Fauziah Mawardi, kemudian Walikota Pagaralam Alpian Maskoni, Bupati dan Muratara Syarif Hidayat, Bupati Musrirawas Hendra Gunawan.

“Sudah lama sekali saya mengidamkan bisa menyunatkan anak. Sampai harus menunggu 35 tahun, karena semua anak Saya perempuan. Padahal saya selalu datang kalau ada orang sunatan sampai kemana-mana bahkan ke Muratara. Kadang iri nian tapi Alhamdulillah sekarang sudah terjawab. Pacak jugo nyunatke cucung,” tutur HD.

Menurut HD, tasyakuran ini menjadi berkah tersendiri bagi keluarganya. Sebagai kakek dan neneknya, Ia berharap setelah menjalani salah satu kewajibannya sebagai umat muslim, Danis dapat menjadi lelaki seutuhnya serta menjadi anak yang sholeh dan patuh pada agama dan orang tua.

“Mungkin ada yang bertanya kenapa seperti khidmat sekali, moment sunat ini memang sakral karena hanya sekali dilakukan seumur hidup. Semoga Danis menjadi muslim yang baik dan makin pintar berbaur dengan teman tanpa membedakan status dan kasta,” tambah HD.

Bukan hanya cucu Gubernur Danis, arak-arakan ini juga diramaikan oleh 107 Teman Danis yang sudah diikutsertakan dalam sunat massal pada bulan Januari sebelumnya.

Tak hanya dihibur dengan tarian kreasi daerah oleh anak-anak, ribuan tamu undangan yang hadir juga disuguhi pementasan Drama Kesultanan Palembang Darussalam oleh rekan sekolah Danis dan dari sanggar Cempako Palembang.

Berkesempatan memberikan tausiah adalah Ustad kondang Muhammad Riza. Dalam tausiahnya Muhammad Riza menjelaskan bahwa sunat merupakan kewajiban bagi laki-laki muslim dan memiliki banyak manfaat. Bukan hanya dari sisi kesehatan tapi juga penyempurna kebutuhan lahir dan batin.

“Maka sudah menjadi kewajiban kota yang hadir di sini untuk mendoakan Muhammad Mandala Sultan Persya ini menjadi anak yang soleh dan mengabdi kepada Allah SWT,” jelasnya.

Pada penutup acara tersebut tuan rumah juga menghadirkan mantan Vokalis ST 12 Charlie Van Houten untuk menghibur tamu undangan dengan lagu-lagunya yang sangat akrab di telinga pecinta musik di tanah air.

Sejumlah pejabat tampak hadir dalam acara tersebut seperti Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Edi Prabowo, Anggota DPD RI Jialyka Pandji Ilyas, Ketua DPRD Provinsi Sumsel RA Anita Noeringhati, Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Irwan, Gubernur Sumsel periode 2003-2008, Syahrial Oesman Walikota Palembang periode 1993-2003, H.Husni, Walikota Palembang Harnojoyo, Wabup OKI, Imam Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikromo, KH Nawawi Dencik.

Laporan : Akip
Editor/Posting : Imam Ghazali

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed