Oleh: Henny Rahmawati
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia per November 2026 mencatat perkembangan terkait titik panas (hotspot). Kebakaran hutan dan lahan ini bukan pertama kalinya terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Seperti sebuah musibah tahunan, hal ini merupakan sesuatu yang disengaja dan sudah direncanakan jauh sebelum karhutla ini terjadi seperti sekarang. Paparan asap dari karhutla yang secara berulang dapat meningkatkan resiko yang sangat membahayakan.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang ini dipicu oleh pembukaan lahan dengan cara membakar sehingga menyebabkan kebakaran yang sangat dahsyat. Di satu titik terjadi pembakaran, otomatis wilayah lain apalagi yang terdekat dengan titik tersebut ikut terkena dampaknya. Asap yang mengganggu jarak pandang dapat menyebabkan semua aktivitas menjadi lumpuh.
Kematian akibat polusi udara di Indonesia melonjak 42% menjadi 5.310 jiwa pada September 2026 seiring memburuknya karhutla. Sebanyak 3.560 kematian berkaitan dengan polusi akibat karhutla dua kali lipat daripada estimasi bulan sebelumnya. Kecaman masyarakat terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menguat.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini merupakan permasalahan lingkungan serius di Indonesia. Hal ini menjadi perhatian publik yang berkembang di ruang digital. Media sosial menjadi tempat masyarakat dalam menyampaikan keluhan, kritik, dukungan maupun informasi mengenai kondisi di lapangan.
Meskipun hujan sudah mulai turun di sejumlah wilayah terjadinya kebakaran, belum otomatis memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hujan hanya membasahi lapisan atas tanah, tetapi api seringkali masih membara di lapisan gambut atau di bawah tanah. Titik panas masih bisa terdeteksi karena masih ada beberapa titik karhutla di beberapa wilayah karena hujan tidak merata.
Kenapa karhutla ini terus terjadi berulang? Ini disebabkan oleh maruknya para oligarki terhadap keuntungan yang menggiurkan. Sistem kapitalisme menjadi pangkal masalah karhutla karena memosisikan hutan bukan sebagai amanah yang harus dijaga. Dampak karhutla menyebabkan masalah pada kesehatan. Dari segi ekonomi pun pemasukan warga berkurang sehingga menyebabkan penurunan keuangan dalam rumah tangga. Kapitalisme tidak peduli terhadap permasalahan ini. Warga dibiarkan menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa memberikan solusi yang pasti.
Kapitalisme meminimalkan peran negara. Negara tidak berpihak pada rakyat, tetapi pada korporasi. Meluasnya dampak karhutla semestinya membuat pemerintah bisa melakukan evaluasi terhadap upaya penanganan yang ada. Apakah mitigasi dalan mencegah dan mengatasi karhutla selama ini berjalan efektif dan antisipatif? Sekali lagi, ini karena karhutla sering terjadi berulang kali.
Negara adalah ra’in dan junnah yang wajib melindungi keamanan, kesehatan, dan perekonomian rakyat. Negara tidak boleh abai, membiarkan rakyat sengsara karena sulit bernapas. Negara telah zalim membiarkan rakyat berada dalam kondisi yang mengancam nyawa akibat karhutla. Bencana kerusakan lingkungan terjadi karena kerakusan manusia, nafsu yang tak terbatas. Manusia memerlukan petunjuk untuk membatasi sifat rakusnya.
Kapitalisme mendukung sifat rakusnya tersebut. Sedangkan Islam akan mengarahkannya ke jalan yang benar. Hutan itu milik umum, hanya sistem Islam yang bisa menjaga dan melestarikannya.
Dampak Karhutla: Ancaman Serius bagi Kesehatan dan Ekonomi Masyarakat
Oleh : Ummu Anggun
Hujan sudah mulai mengguyur berbagai wilayah di indonesia termasuk Kalimantan, akan tetapi bukan berarti karhutla berakhir, kalimantan tengah tercatat sebagai wilayah dengan kualitas udara terburuk di Indonesia. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) per Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 08.00 WIB, indeks pencemaran udara di provinsi tersebut melonjak hingga menyentuh angka 1.533.kalimantan tengah di sebut kota tertinggi penyumbang polusi udara terbesar di banding tujuh kota lainnya.
Bahkan angka kematian akibat polusi udara di Indonesia melonjak 42% menjadi 5.310 jiwa pada September 2026 seiring memburuknya karhuta. Sebanyak 3.560 kematian berkaitan dengan polusi akibat karhutla, dua kali lipat daripada estimasi bulan sebelumnya.
Dampak Karhutla
Mungkin bagi sebagian masyarakat dampak dari karhutla tidak begitu di rasakan secara langsung, tapi bagi sebagian yang lain karhutla ini berdampak sangat serius bagi kesehatan apalagi bagi mereka yang punya riwayat penyakit seperti asma, paru paru ,ispa dan penyakit lainnya yang rentan dengan paparan asap.
Selain dampak bagi kesehatan karhutla juga berdampak serius pada kondisi ekonomi masyarakat, terganggunya berbagai penerbangan yang merugikan berbagai pihak, para petani kehilangan lahan dan hasil panen, banyak toko-toko yang harus tutup selama karhutla dan pemulihan lahan gambut yang membutuhkan waktu begitu lama adalah sebagian kecil dampak karhutla.
Dari sektor pendidikan juga menimbulkan dampak yang luar biasa, anak anak tidak bisa bersekolah seperti biasa melainkan hanya melalui pembelajaran jarak jauh yang sifatnya online dan tidak efektif.
Dampak dari karhutla juga dirasakan oleh negara tetangga, penurunan ekosistem, rusaknya habitat hewan di hutan dan hilangnya keaneka ragaman hayati.
Mungkin jika kita amati, saat ini seiring turunnya hujan karhutla semakin berkurang tapi sebenarnya dampaknya belum akan selesai karena bersifat jangka panjang pada kesehatan dan pemulihan ekonomi.
Sistem sekuler kapitalisme adalah biang permasalahan karhutla, minimnya peralatan untuk memadamkan api dan lambatnya penanganan oleh negara menjadikan karhutla berlangsung begitu lama dan meluas. Bahkan menteri kesehatan mengatakan kita harus beradaptasi dengan asap, karhutla yang sudah demikian menyengsarakan masyarakat di anggap sesuatu yang harusnya kita nikmati.
Di dalam Islam, negara menjadikan hutan sebagai kekayaan alam yang harus kita jaga untuk kemaslahatan bersama, hutan adalah paru paru dunia yang dengannya paru paru kita juga akan sehat. Rasulullah SAW bersabda :
الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ وَالْكَلَاءِ وَالنَّارِ
Artinya: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majah)
Padang rumput termasuk hutan adalah kepemilikan bersama yang haram untuk di kuasai demi kepentingan individu.
Bisa kita bayangkan ketika hutan yang harusnya kita jaga di rusak dengan di gunduli dan di bakar maka akibatnya pasti juga akan berdampak pada kelestarian hutan dan kehidupan kita, Allah berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah tangan manusia…” (QS. Ar Rum 41).
Islam tidak membenarkan alam di eksploitasi, hutan di alih fungsikan menjadi lahan sawit untuk kepentingan para korporat, sanksi tegas harusnya diberlakukan bagi siapa saja yang melanggarnya.
Ketika negara membiarkan rakyatnya dalam keadaaan dharar dan mengancam nyawa maka sesungguhnya negara sedang melakukan kedzaliman besar terhadap rakyatnya.
Sudah seharusnya ketika bencana melanda seperti terjadinya karhutla maka negara wajib segera melakukan berbagai upaya untuk segera mengatasinya baik dengan pemadaman, infrastuktur, militer atau meminta bantuan kepada negara tetangga agar tidak meluas.
Negara juga sudah seharusnya menyiapkan pengobatan gratis kepada masyarakat yang terdampak karhutla, bukan sekedar pembagian masker tapi minim upaya penanganan hingga menjadikan banyak nyawa terancam bahkan menimbulkan kematian.
Negara sebagai penguasa tertinggi sudah seharusnya melindungi rakyatnya dari segala ancaman, memberikan rasa aman sehingga rakyat hidup tenteram dan sejahtera. Namun alih alih mengurusi rakyat justru rakyat menjadi tumbal kerakusan para penguasa dan pemilik modal.
Maka sebuah kemustahilan kita akan hidup sejahtera, aman, damai dalam sebuah sistem sekuler kapitalis, dan sudah saatnya kita campakkan sistem ini dan kembali dalam naungan negara Khilafah yang dengannya rakyat akan hidup sejahtera. Wallahu A’lam Bisshowab.













