Darurat Remaja Terjangkit HIV Makin Banyak, Tawaran Solusi Tidak Menyentuh Akar Masalah

Oleh : Siti Nurjanah (Aktivis Dakwah)

Makin kesini, makin kesana, makin tidak tau ke mana arahnya. Statemen yang sering di ungkapkan ketika kondisi semakin parah dan membingungkan. Ya, seperti kasus HIV/AIDS di Indonesia yang semakin parah tetapi belum menemukan titik terang solusinya. Dilansir dari kumparaNews, Dinas Kesehatan Pemkab Sidoarjo, mencatat sejumlah 7.230 orang hidup dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV), berdasarkan data kumulatif sejak 2001 sampai Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 522 orang merupakan pelajar jenjang PAUD hingga SMA. (24/07/2026)

Fakta lain di Sumatera Selatan, dikutip dari Palembang (ANTARA) – Dinas Kesehatan Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel) mencatat sebanyak 380 kasus baru HIV/AIDS ditemukan di wilayah tersebut, selama periode Januari – Mei 2026, dan 28 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia. (12/07/2026).

Melihat hal tersebut Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai pendidikan seksual sejak dini menjadi salah satu upaya penting untuk mencegah perilaku seksual beresiko yang dapat berujung pada penularan HIV/AIDS. Menurutnya pendidikan seksual masih dianggap tabu, padahal edukasi tersebut diperlukan agar anak memahami risiko pergaulan bebas sejak dini.

Sedangkan solusi di Sumatera Selatan (Pemda Sumsel) melalui Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, dalam menekan lonjakan kasus HIV berfokus pada perluasan skrining dini, penguatan layanan medis bergerak (mobile clinic), pendistribusian logistik obat, dan regulasi daerah.

Generasi Dalam Bahaya

Tingginya kasus HIV pada remaja mencerminkan rusaknya sistem sosial akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme yang menjauhkan agama dari kehidupan. Gaya hidup bebas tanpa aturan menyebabkan berbagai kerusakan.

Menarasikan bahwa meningkatnya temuan kasus HIV tidak bisa secara langsung dimaknai meningkatnya kasus penularan, tapi justru karena meningkatnya efektifitas deteksi dini kasus yang dilakukan oleh pemerintah dan mitra, adalah bentuk gagal paham terhadap problem yang ada.

Oleh karena itu, salah dalam membaca masalah dan gagal dalam mendefinisikan akar masalah, maka solusi yang ditawarkan pun jadi problematik, tidak akan benar-benar solutif. Seperti pencegahan yang ditawarkan yakni edukasi seksual, safe sex tidak menyentuh akar masalah, karena seringnya edukasi seksual sekular sering kali hanya fokus pada dampak kesehatan medis saja. Sebagai contoh, pencegahan penyakit menular atau kehamilan tak diinginkan yaitu dengan menggunakan alat kontrasepsi.

Dari sini tampak jelas dimana keberpihakan sistem kapitalisme sekular yang nyata memisahkan agama dari kehidupan, aktivitas yang dilakukan tidak memandang dosa atau pahala, yang di tonjolkan hanyalah bagaimana cara agar aktivitas yang dilakukan mendapat keuntungan sekalipun menimbulkan kerusakan.

Peran Negara Dalam Islam

Di dalam negara Islam pemimpin seharusnya menjadi raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung), di mana masyarakat berlindung dibelakangnya ketika ada sesuatu yang mengancam, termasuk penyakit menular dan berbahaya. Untuk mencegah HIV pada pelajar, Islam membangun sistem pergaulan sosial yang preventif melalui Sistem Pergaulan dalam Islam. Memisahkan antara pergaulan laki-laki dan perempuan, sehingga interaksi yang intensif tidak akan terjadi.

Aturan yang dipakai didalam sistem Islam tidak lain berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Melalui aturan menjaga pandangan, larangan mendekati zina, memakai pakaian yang menutup aurat, dan mengatur pernikahan, serta sanksi atau uqubat bagi pelaku yang melanggar aturan Islam.

Penerapan sistem pendidikan Islam yang mengintegrasikan materi kesehatan reproduksi dengan ilmu fiqih pergaulan dan akhlak, sehingga pelajar memahami bahwa menjaga kesehatan organ reproduksi adalah bagian dari ibadah dan amanah Allah, dan menyadari bahwa setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Islam Problem Solving

Islam mempunyai solusi tuntas untuk seluruh permasalahan termasuk kasus HIV/pergaulan bebas melalui tiga pilar utama. Pertama, pembentukan individu yang beriman dan bertakwa melalui keluarga, sebagaimana pandangan Islam bahwa orang tua dalam madrasah pertama bagi anak-anak nya. Oleh karena itu keluarga mempunyai peran utama dalam mendidik anak agar menjadikan halal dan haram sebagai standar dalam setiap aktivitas.

Kedua, peran masyarakat yang aktif dalam ber amar ma’ruf nahi mungkar. Masyarakat tidak membiarkan kemaksiatan menjadi sesuatu yang biasa, tetapi saling mengingatkan dalam kebaikan dan kewajiban nya sebagai seorang hamba.

Ketiga, negara bertanggung jawab menerapkan aturan Islam secara menyeluruh serta melindungi masyarakat dari faktor yang merusak seperti pornografi, narkoba, miras dan seluruh bentuk kemaksiatan. Ketika individu bertakwa, masyarakat perduli, dan aturan Islam di terapkan secara sempurna, maka pergaulan bebas tidak hanya ditangani dampaknya saja, tetapi juga di cegah dari akarnya.

Oleh Karena itu, jika ingin menyelamatkan generasi muda dari kerusakan moral yang semakin parah, solusi yang dibutuhkan bukan sekadar kampanye atau slogan semata. Namun, yang dibutuhkan adalah kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup. Sehingga peradaban mulia dapat terwujud kembali. Wallahu’alam.