Andarusni Alfansyur:  81 Indonesia Merdeka,  Hadirkan Tantangan Berbeda Setiap Generasi

Securitynews.co.id, PALEMBANG— Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka menghadirkan tantangan yang berbeda bagi setiap generasi. Jika dahulu perjuangan diarahkan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, hari ini salah satu medan perjuangan bangsa hadir di ruang digital: menjaga kebebasan tetap bertanggung jawab, informasi tetap beradab, serta teknologi tetap berpihak pada kemanusiaan, keadilan, dan kemajuan bersama.

Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala Bidang Humas MAN 3 Kota Palembang, Andarusni Alfansyur, S.Pd., M.Pd., seusai menghadiri upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kawasan Jakabaring Sport City, Palembang, Senin (17/8/2026).

Menurut Andarusni, cita-cita menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak hanya bergantung pada kemajuan pembangunan fisik maupun teknologi. Kualitas warga negara dalam menggunakan kebebasan dan kemajuan tersebut juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. “Delapan puluh satu tahun kemerdekaan harus membuat kita bertanya, setelah memperoleh ruang kebebasan yang begitu besar, untuk apa kebebasan itu kita gunakan? Di era digital, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena setiap warga tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dapat memproduksi, menyebarkan, dan memengaruhi orang lain melalui informasi,” ujar Andarusni.

Kedaulatan Kini Juga Diuji di Ruang Digital

Andarusni menilai perkembangan teknologi telah memperluas makna kewargaan. Kehadiran media sosial dan berbagai platform digital membuat masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk menyampaikan pendapat, berpartisipasi dalam isu publik, membangun jejaring, hingga menghasilkan karya.

Namun, kebebasan tersebut juga membawa tanggung jawab baru. Kemampuan menggunakan teknologi, menurutnya, belum otomatis menjadikan seseorang sebagai warga negara digital yang baik. “Warga negara digital bukan sekadar orang yang aktif di media sosial atau mahir menggunakan teknologi. Ia harus mampu berpikir kritis, memahami informasi, menjaga etika, menghargai hak orang lain, serta bertanggung jawab terhadap jejak digital yang ditinggalkannya,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Andarusni memandang Pancasila tetap relevan sebagai landasan karakter warga negara, termasuk ketika kehidupan masyarakat semakin terhubung dengan teknologi.

Nilai kemanusiaan, misalnya, dapat diwujudkan melalui komunikasi digital yang menghormati martabat orang lain. Persatuan dapat tercermin dari sikap tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang memecah belah. Musyawarah hadir melalui kesediaan berdialog secara sehat, sementara keadilan perlu diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi yang tidak meninggalkan kelompok lain. “Kalau kita berbicara Indonesia berdaulat, maka warga negaranya juga harus memiliki kedaulatan dalam berpikir. Jangan sampai pilihan dan pandangan kita sepenuhnya ditentukan oleh informasi yang belum kita periksa kebenarannya, provokasi, atau apa pun yang sedang viral,” ujarnya.

Pancasila Tidak Boleh Berhenti sebagai Wacana

Sebagai pendidik, Andarusni menilai salah satu tantangan pendidikan saat ini adalah membawa Pancasila keluar dari batas materi pembelajaran menuju praktik kehidupan nyata.

Pancasila, menurutnya, tidak cukup dinilai dari kemampuan murid menghafalkan lima sila. Pendidikan perlu membantu generasi muda memahami bagaimana nilai tersebut digunakan ketika mereka menghadapi perbedaan, mengambil keputusan, berkolaborasi, menerima informasi, maupun berinteraksi di ruang digital. “Pancasila akan benar-benar menjadi karakter ketika nilainya terlihat dalam tindakan. Bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda, bagaimana kita menggunakan kebebasan berbicara, bagaimana kita menyikapi informasi, dan bagaimana teknologi yang kita kuasai dapat memberi manfaat bagi orang lain,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai kecakapan digital dan karakter Pancasila tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Generasi muda membutuhkan kemampuan teknologi untuk menghadapi perubahan zaman, tetapi kecakapan tersebut perlu dibarengi integritas, empati, kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama.

Dari Warga Digital Menuju Indonesia yang Adil dan Makmur

Menurut Andarusni, keadilan dan kemakmuran pada era digital juga berkaitan dengan bagaimana teknologi membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk belajar, berkarya, memperoleh informasi, berinovasi, dan berpartisipasi.

Ruang digital seharusnya tidak hanya menjadi tempat konsumsi hiburan dan informasi. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, pengembangan kreativitas, pelayanan publik, penguatan ekonomi, hingga menyampaikan gagasan yang memberikan manfaat kepada masyarakat. “Teknologi seharusnya memperluas kesempatan, bukan memperlebar jarak. Kemajuan digital harus kita arahkan agar semakin banyak orang memperoleh akses terhadap pengetahuan, kesempatan berkarya, dan ruang untuk berkembang. Di situlah nilai keadilan mendapatkan konteks barunya,” tuturnya.

Bagi Andarusni, hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa menjadi warga negara digital berkarakter Pancasila bukan gagasan yang terpisah dari cita-cita kemerdekaan.

Kedaulatan membutuhkan warga yang mampu berpikir secara merdeka dan kritis. Keadilan membutuhkan warga yang menghormati hak dan kesempatan sesama. Sementara kemakmuran membutuhkan generasi yang mampu mengubah pengetahuan dan teknologi menjadi karya yang produktif serta memberikan manfaat.

Mengisi Kemerdekaan dengan Karakter

Pada momentum HUT ke-81 RI, Andarusni mengajak generasi muda untuk melihat kemerdekaan bukan hanya sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai tanggung jawab antargenerasi.

Menurutnya, medan perjuangan boleh berubah, tetapi nilai yang diperjuangkan tetap sama. Jika generasi terdahulu memperjuangkan ruang agar bangsa Indonesia dapat menentukan masa depannya sendiri, generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk mengisi ruang tersebut dengan pendidikan, karakter, kreativitas, dan karya. “Generasi hari ini mungkin tidak diminta berjuang dengan cara yang sama seperti para pendahulu bangsa. Tetapi kita memiliki medan perjuangan sendiri. Ruang kelas adalah medan perjuangan, tempat kerja adalah medan perjuangan, masyarakat adalah medan perjuangan, dan sekarang ruang digital pun menjadi bagian dari medan pengabdian kita,” katanya.

Ia menegaskan, kemajuan Indonesia pada akhirnya tidak cukup diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi juga dari karakter manusia yang menggunakannya. “Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur membutuhkan warga negara yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga kuat karakternya. Teknologi boleh terus berubah, zaman boleh terus bergerak, tetapi Pancasila harus tetap menjadi nilai yang menuntun cara kita menggunakan kemerdekaan,” pungkas Andarusni.

Laporan : Sandy

Posting  : Imam Gazali