Oleh: Qomariah
AS adalah aktor utama di balik setiap konflik yang terjadi di negeri-negeri muslim. AS dan Yahudi bahu-membahu mengusir muslim Palestina dengan berbagai cara. Nyatanya, hingga detik ini upaya tersebut tidak membuahkan hasil. bahkan, solusi dua negara yang AS gagas tidak lain merupakan peta jalan untuk mempertahankan hegemoni. Solusi itu direstui oleh pemimpin muslim Arab, tetapi banyak mendapat penentangan dari negara-negara lain di dunia.
Bahwa situasi kemanusiaan di Gaza, Palestina kembali memburuk dan sangat mengkhawatirkan. Situasi Gaza yang disebut mengkhawatirkan ini sebagaimana pernyataan bersama Inggris, Kanada, Prancis, dan negara-negara lainnya, (30/12/2025). Negara-negara tersebut juga menyerukan Israel untuk mengambil tindakan mendesak.
Pernyataan yang diterbitkan secara daring oleh kementerian luar negeri Inggris, mengatakan Israel harus mengizinkan organisasi non- pemerintah untuk bekerja di Israel secara berkelanjutan dan dapat diprediksi, serta memastikan PBB dapat melanjutkan pekerjaannya di wilayah Palestina tersebut. Tribunnews.com (Rabu, 31/12/2025).
Namun, umat Islam hari ini terpecah belah dan lebih sibuk dengan negara bangsanya masing-masing tanpa saling peduli dengan sesama negeri Muslim lainnya. Ini sungguh jauh dari potret (khairu ummah) padahal sejatinya umat Islam itu bagaikan satu tubuh, apabila salah satunya sakit, maka semuanya akan merasakan sakit juga.
Rasulullah SAW bersabda; “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan merasakan demam.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Tetapi dalam konteks hari ini, predikat sebagai sebaik-baik umat itu kini memudar, umat Islam dalam kondisi terpuruk. Beberapa negeri Islam mengalami krisis politik berkepanjangan. Palestina masih dalam cengkeraman negara-negara kafir, sementara sudah menjadi Medan pertarungan kepentingan AS melalui proksinya.
Saat ini sekitar 90% penduduk Gaza (hampir 2 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka sejak 10/2023. sementara itu, ribuan orang kehilangan nyawa dan ribuan lainnya hilang.
Juga mata pencarian dan sistem pangan mereka telah hancur, begitu juga layanan kesehatan serta kebersihan berada di ambang kehancuran. Banyak pihak menyebutkan perang Gaza disebut sebagai konflik abadi, karena akan terjadi dalam jangka waktu yang lama.
Krisis kemanusiaan kian memburu akibat kelangkaan pangan, air bersih, dan obat-obatan. Sejumlah kota di daerah mengalami blokade ketat yang melumpuhkan distribusi kebutuhan pokok, sehingga meningkatkan risiko kelaparan. Kondisi ini diperparah oleh lonjakan tajam harga barang-barang kebutuhan dasar, serta runtuhnya layanan publik. Seperti; terputusnya akses komunikasi, dan air bersih, di berbagai wilayah semakin menambah beban penderitaan masyarakat.
Kenapa situasi kemanusiaan di Gaza makin memprihatinkan dan memburuk? Karena diamnya para pemimpin muslim. Terhambatnya upaya kaum muslim dalam membebaskan Palestina merupakan konsekuensi dari penjajahan pemikiran yang berlangsung lama sejak runtuhnya Khilafah, melalui dominasi pemikiran sekuler, kaum kafir penjajah berhasil membatasi upaya penyatuan umat Islam dalam sekat-sekat wilayah geografis melalui euforia nasionalisme.
Bahkan di setiap negara diposisikan seolah-olah memiliki kedaulatan dan kemerdekaannya sendiri. Nasionalisme membentuk garis tegas antara urusan domestik di luar negeri, kalaupun muncul kepedulian terhadap penderitaan sesama, dorongan tersebut cenderung karena nilai kemanusiaan, bukan berdasarkan ikatan akidah.
Dengan nation state (sekat-sekat) geografis inilah yang menjadikan potensi militer maupun jumlah umat Islam hanya sekedar angka di atas kertas. Serta penjajahan pemikiran yang ditanamkan sejak runtuhnya sistem Islam (Khilafah), telah membius dan melemahkan pemikiran umat. Melalui berbagai perjanjian dan kerjasama bersyarat, kaum kafir penjajah juga membungkam daya kritis umat dan membatasi langkah mereka dalam memperjuangkan kepentingan umat secara menyeluruh, demikianlah potret suram sang khairu ummah hari ini yang nasibnya benar-benar berada pada titik terendah.
Kesadaran umat Islam hari ini, haruslah banyak-banyak menyadari bahwa barat tengah melancarkan konfrontasi menyeluruh terhadap Islam. Meski AS senantiasa mengklaim bahwa mereka mengutamakan perdamaian dalam menyelesaikan konflik di negeri-negeri muslim, tetapi ambisi mereka mempertahankan eksistensi globalnya tetap menonjol dan memicu konflik total.
Sangat disayangkan, umat Islam hari ini saja, memilih solusi ala barat yang mereka sodorkan kepada negeri-negeri muslim. Umat dan pemimpinnya hanya sibuk dengan kecaman dan diplomasi tanpa hasil. Padahal, agresi dan pengkhianatan terus berulang.
Seharusnya sudah selayaknya umat menyadari solusi yang mendasar untuk membebaskan negeri-negeri muslim, yakni dengan memperjuangkan tegaknya kembali sistem Islam (Khilafah) agar langkah-langkah strategis dan ideologi dapat diwujudkan secara nyata, Untuk menghentikan hegemoni kapitalisme global.
Bahwa sistem Islam (Khilafah) adalah kepemimpinan umum umat Islam yang menerapkan hukum-hukum syariat serta mengemban dakwah islam ke seluruh penjuru dunia. Seluruh ulama ahlussunnah Wal jamaah (Aswaja) telah sepakat (ijma mu’tabar) bahwa hukum menegakkan Khilafah adalah wajib.
Oleh karena itu, harus adanya institusi pemerintahan Islam yang menyatukan dan melindungi kaum muslimin. Yaitu; (Khilafah) akan membebaskan negeri-negeri muslim yang saat ini berada dalam cengkraman kaum kafir penjajah. Karena ketiadaan (Khilafah) di tengah-tengah umat telah membuat musuh-musuh Islam bebas memangsa, mengadu-domba, melakukan stigmatisasi syariat Islam melalui opini, memutarbalikkan fakta, bahkan mencaplok tanah dan kekayaan umat.
Padahal, di masa kejayaannya, Khilafah adalah negara superpower yang disegani di kancah internasional. Khilafah melindungi setiap jengkal tanah kaum muslim dan seluruh kekayaan alamnya.
Maka dari itu, umat Islam pun harus menyadari bahwa untuk membebaskan Palestina dari penderitaan yang berkepanjangan tidak cukup dengan mengutuk dan memohon kebaikan zion*s agar membuka pintu masuk untuk bantuan kemanusiaan. Namun, Umat hari ini harus bangun dari tidurnya, dan bersegera mengambil solusi mandiri merupakan agenda utama umat yang sangat mendasar, yaitu jihad dan khilafah, sebab hadirnya Khilafah bukan hanya menjadi institusi pemersatu, melainkan sebagai pengomando umat di bawah arahan seorang pemimpin, yakni Khalifah. Insya Allah.
Wallahu a’lam bishawwab.







