Tinjauan Syariah, Perlindungan Anak dalam Lingkungan Keluarga

Oleh: Santi Ambo Upe SKM (Aktivis Muslimah)

Sungguh miris Seorang mahasiswa kedokteran Universitas Brawijaya diduga mencoba bunuh diri dengan cara melompat. (Kamis,10/9/2026), Korban selamat dan hingga kini dalam perawatan intensif di rumah sakit.
Mahasiswa itu terjun dari lantai 6 gedung Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK) pada Kamis pagi.

Semula korban diduga berasal dari Fakultas Pertanian yang menjadi tempatnya mau bunuh diri. Namun, belakangan diketahui, korban adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran (FKUB).Bahwa Hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id mencatat klien didominasi kelompok usia 21–30 tahun, menunjukkan krisis kesehatan mental, paling banyak menimpa generasi muda.

Tidak ada Kejelasan mengenai korban dan dugaan penyebab kejadian itu hingga saat ini, masih dalam penyelidikan polisi. Adapun pihak Fakultas Kedokteran UB belum memberikan keterangan resmi. Semula FKUB menjadwalkan jumpa pers pada Kamis pukul 16.00 WIB. Namun, rencana itu ditangguhkan seiring permintaan dari rektor untuk menundanya. Kompas. (10/9/2026).

Hiruk pikuk pergaulan dalam sistem Sekularisme liberal, yang mencabut akidah dari kehidupan membuat generasi kehilangan pegangan saat menghadapi tekanan hidup. Tanpa iman yang kokoh sebagai benteng pertahanan dalam jiwa, jelas sulit dan terasa berat hingga berujung pada keputusasaan.
Serta melahirkan masyarakat yang individualistis.
Setiap orang berjuang sendiri tanpa ikatan masyarakat yang kuat, Kesepian pun merajalela bahkan di antara mereka ada yang secara materi berkecukupan.

Mahasiswa kedokteran sering kali dihadapkan pada tingkat stres yang sangat tinggi, jam belajar yang padat, serta tuntutan akademis yang berat. juga sistem senioritas yang menjadi tren yang dibenturkan keadaan tingkat sosial keluarga, kurangnya kepekaan terhadap sesama teman, lemah solidaritas. Adanya pembatas antara dosen dan siswa, memandang semua penyebab maka perlunya penyediaan fasilitas konseling yang mudah diakses, responsif, dan bebas stigma di lingkungan universitas untuk mendeteksi serta mendampingi mahasiswa yang sedang mengalami krisis.
Semua itu adalah buah dari negara yang menerapkan Sekularisme- Kapitalisme, Negara ini yang membentuk individu rapuh dan masyarakat individualistis melalui penerapan sistem pendidikan sekuler dan ekonomi Kapitalisme.

Dalam sistem Islam, keluarga merupakan tempat pertama dan utama (madrasah ula) untuk membentuk ketahanan mental serta kepribadian anak, Pola asuh Islami menekankan keseimbangan antara kasih sayang, komunikasi yang terbuka, serta penanaman nilai tauhid agar anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh secara emosional dan spiritual.

Berikut adalah prinsip-prinsip utama dalam Islam untuk menguatkan mental anak melalui pola asuh keluarga.
Serta Menanamkan Akidah dan Tauhid yang Kuat,
Fondasi mental yang kokoh, berawal dari pemahaman bahwa Allah SWT selalu ada untuk menjaga dan membantu.Ketika anak memahami konsep ini, mereka tidak mudah putus asa saat menghadapi kesulitan.

Pentingnya Tawakal, Ajarkan anak bahwa tugas manusia adalah berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Meneladani nasihat Luqman kepada anaknya. yaitu; Larangan Syirik,
Berbakti kepada Orang Tua, Batasan Ketaatan kepada Manusia, Pengawasan Allah, Amal Shaleh dan Dakwah, Larangan Sombong, Adab Berjalan dan Berbicara.(TQS. Luqman: 13-19).

Yang harus didahulukan adalah, penanaman tauhid dan akhlak sebelum melarang hal-hal lain, serta memberikan kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan emosional.

Bahwa anak yang merasa dicintai dan diterima di rumah memiliki mental yang lebih stabil dan percaya diri saat berhadapan dengan dunia luar, Kehangatan Fisik dan Verbal, Rasulullah SAW kerap memeluk, mencium, dan memanggil anak-anak dengan panggilan yang baik.
Sikap inisial membangun rasa aman dalam diri anak, Mengakui Perasaan Anak, Dengarkan keluh kesah dan cerita emosi anak saat mereka sedih, kecewa, atau marah.

Hindari meremehkan perasaan mereka agar mereka belajar mengenali serta mengelola emosi dengan baik. Pandanglah murka dengan kasih sayang , sehingga kelak jika ada masalah, dikembalikan ke rumah dan orang tua tempat pertama mereka bercerita dengan aman dan nyaman tanpa merasa di interogasi dan dimarahi.

Rasulullah SAW mencontohkan, bahwa kasih sayang, fisik dan emosional adalah kebutuhan mendasar anak untuk membentuk jiwa yang sehat, Komunikasi Dua Arah,dan Melibatkan Anak.

Islam mengajarkan prinsip musyawarah dalam keluarga, untuk melatih kedewasaan berpikir dan rasa tanggung jawab pada anak. Biarkan mereka bercerita dari sudut pandangan anak, berikan ruang untuk anak menyikapi masalah yang mereka hadapi.

Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail: Saat mendapat perintah besar, Nabi Ibrahim tetap mengajak putranya berdiskusi dan mendengarkan pendapatnya.

Allah SWT berfirman,
“menceritakan kisah dialog antara Nabi Ibrahim AS dan anaknya, Nabi Ismail AS, ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah melalui mimpi untuk menyembelih anaknya.”
(TQS. Ash-Shatfat: 102).

Mengajarkan Konsep Sabar dan Ketahanan Jiwa
Mental yang kuat tidak lahir dari kehidupan tanpa masalah, melainkan dari kemampuan untuk bangkit kembali setelah menghadapi kegagalan.
Proses Belajar dari Kesalahan, Tampakkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar.

Ajarkan anak untuk berdoa, bersabar, dan mencoba kembali saat menghadapi kesulitan, Berikan tugas-tugas kecil sesuai usianya agar anak merasa berdaya, mandiri, dan yakin akan kemampuan dirinya sendiri.

Serta Menjadi Teladan (Uswatun Hasanah) dalam Mengelola Stres
Anak meniru cara orang tua merespons tekanan hidup, Sikap Orang Tua Saat Menghadapi Masalah, Ketika orang tua menghadapi kesulitan dengan tenang, memperbanyak doa, dan tidak meluapkan emosi secara disrupsi, anak akan belajar cara mengendalikan stres yang sama.
Saling Melengkapi Antara Ikhtiar Medis dan Spiritual, Prinsip penanganan kesehatan mental.

Dalam Islam menggabungkan dua pendekatan Melalui konseling, terapi perilaku (CBT), pertolongan medis, atau psikiatri untuk menata pola pikir, mengurai trauma, dan menyeimbangkan kondisi biologis otak, ajarkan mereka salat untuk memberikan ketenangan batin, harapan, serta pemaknaan hidup saling menguatkan.

Contoh seperti Berobat, adalah bentuk ikhtiar lahiriah, sedangkan berdoa dan berzikir adalah bentuk ikhtiar batiniah.
Menjaga Kerahasiaan (Amanah)
terdapat kode etik untuk menjaga kerahasiaan pasien, Islam sangat menjunjung tinggi prinsip ini sebagai bentuk menjaga aib dan Amanah, Konselor atau psikiater yang mendengarkan keluhan pasien menjalankan prinsip Islam dalam menjaga kehormatan dan rahasia sesama Muslim.

Bahwa Islam melarang memberi keterangan negatif atau menghakimi orang yang sedang tertimpa krisis mental. Rangkaian terapi profesional membantu menciptakan ruang aman bagi seseorang untuk memulihkan kondisinya.

Tanggung Jawab Masyarakat dan Negara
Perlindungan anak bukan hanya tugas orang tua, melainkan juga tanggung jawab masyarakat dan pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang aman, dalam fikih Islam, negara bertanggung jawab mengurus anak-anak yatim, telantar, atau yang menjadi korban kejahatan melalui kas negara (Baitul Mal) serta penegakan hukum bagi pelaku kejahatan terhadap anak. Wallahu a’lam bishawwab.