Oleh: Qomariah (Aktivis Muslimah)
Dalam sistem Kapitalisme sekuler saat ini makin mendapatkan panggung untuk menghancurkan generasi muda maupun kaum ibu. Harus deras sekularisasi melejit melalui algoritma di dalam belantara digital, berbagai konten liberal yang tersaji di media sosial pun membuat kedua generasi itu terjebak oleh standar kebahagiaan semu yang mengenakan dan melalaikan mereka dari peran hakiki di dunia nyata.
Polrestabes Medan mengungkap kronologi dugaan pembunuhan seorang ibu berinisial F (42) oleh anaknya, AL (12), di Kota Medan. Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak menyampaikan, sebelum kejadian, korban bersama dua anaknya tidur dalam satu kamar di lantai satu.
AL dan korban tidur di kasur bagian atas, sementara kakak korban tidur di kasur bagian bawah, Suami korban beristirahat di lantai dua. Pada Rabu (10/12/2025) sekitar pukul 04.00 WIB, AL terbangun dan mengambil pisau untuk melukai korban yang sedang tertidur. Akibatnya korban menderita 26 luka tikam.
Dalam Islam, membunuh orang tua adalah dosa yang sangat besar (dosa besar) dan termasuk kejahatan yang diharamkan tanpa alasan syar’i, hukumannya sangat berat, bisa berupa qishash (hukuman setimpal) atau diyat.
Sekularisme liberalisme merusak identitas pemuda Muslim, dan juga mengubah cara berpikirnya, bersikap dan gaya hidup mereka, tetapi juga mempengaruhi cara mereka memahami agama, pola belajar agama yang dulu bertumpu pada guru dan majelis ilmu, kini bergeser pada algoritma media sosial yang tentunya tidak sesuai dengan fitrahnya.
Hari ini kita hidup dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, sistem yang mencabut potensi generasi muda dari fitrahnya, nilai sekuler mengajarkan agama itu urusan pribadi, bukan urusan di ranah kehidupan. Di medsos pun berseliweran konten yang menyatakan bahwa kebenaran itu relatif, di mana pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan dan pemikiran Barat.
Data menunjukkan bahwa generasi muda rentan terhadap stres dari perbandingan sosial di platform, seperti Instagram dan Tik tok, serta mengalami FOMO (fear of missing out) atau takut tertinggal dari lingkungannya.
Tidak heran juga mengapa banyak generasi muda Indonesia yang mengalami gangguan kesehatan mental, akibat screen Time yang berlebihan. Menurut para ahli, kesehatan mental adalah di mana kondisi kejiwaan yang bisa berpikir jernih, mampu mengatasi tekanan hidup, serta berinteraksi dengan orang lain. Sementara yang terganggu kesehatan mentalnya adalah mereka yang mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi, berpikir dan susah membangun interaksi sosial dengan orang lain, akibatnya perasaan rendah diri, kecemasan meningkat, dan bisa menyebabkan gangguan mental atau depresi.
Banyak dari mereka termasuk remaja, menghabiskan waktu berjam-jam demi menonton konten unfaedah di depan layar hingga larut malam. Tak sedikit dari mereka mengorbankan waktu tidur yang sangat penting bagi perkembangan otak, dan kesehatan mental, kecanduan medsos akut, diperparah dengan tidak ada batasan usia dalam penggunaan medsos, padahal medsos dan Ai terbukti berbahaya bagi kesehatan mental, mengakibatkan penurunan daya ingat akibat sosmed berlebihan, kemalasan berpikir, kesepian dan lain-lainnya.
Pada titik ini sekularisasi makin mendapatkan panggung untuk menghancurkan generasi muda maupun kaum ibu, di mana dengan derasnya digitalisasi saat ini juga membuat kondisi kaum Ibu tidak kalah memprihatinkan dibandingkan generasi mudanya, mereka telah menjadi korban sistem kapitalisme dalam memandang kehidupan secara instan, berbagai konten liberal tersaji di media sosial pun membuat kedua generasi itu terjebak oleh standar kebahagiaan semu, yang melalaikan mereka dari peran hakiki di dunia nyata.
Adapun sisi konsumerisme mereka dimainkan hingga tidak jarang ada yang tersesat mengakses aplikasi pinjol dan judol, belum lagi konten-konten yang bermuatan kekerasan, aksi-aksi extrem, game online, juga pornografi dan pornoaksi, dan kasus-kasus kriminal lainnya.
Bahkan medsos juga memberikan standar rusak; yang penting viral, bukan benar. Generasi muda di jejali beragam konten tiap hari. Mulai dari gaya hidup hedonistik, membandingkan dengan orang lain. Akibatnya generasi muda mudah overthinking, haus validasi, tapi minim refleksi diri, banyak berpikir tapi salah arah, dan sebagainya.
Kapitalistik pun membidik generasi muda sebagai pasar strategis untuk menumpuk kekayaan, (AS) sebagai pengusung ideologi rusak kapitalisme dengan sistem sekuler liberal sebagai atasnya, berusaha untuk mengekspor nilai-nilai rusak (liberalisme, hedonisme permisif dan lain-lain). Tujuannya untuk menancapkan nilai-nilai yang bertolak belakang dengan standar syariat, alhasil generasi muda muslim akan jauh dari Islam, bahkan meninggalkan Islam.
Oleh sebab itu, generasi muda dan kaum ibu harus sadar dan tidak boleh bersikap abai, mereka adalah dua generasi yang sama– sama potensial menjadi subjek dakwah dan pelaku perubahan, mereka juga memiliki amanah yang sama, yakni menegakkan sistem Islam Kaffah.
Aktivitas dakwah adalah tanggung jawab bersama, dalam mewujudkan perubahan hakiki dari kehidupan sekuler menuju tegaknya kehidupan Islam.
Allah SWT berfirman; “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”(QS. Ar-Ruum: 30).
Mengambil Ibrah (pelajaran) dari ayat-ayat tersebut, demikianlah semestinya visi dan misi hidup seorang muslim dimuka bumi. sungguh generasi dan kaum ibu adalah kelompok yang memiliki peran sentral untuk kebangkitan Islam, apalagi ibu memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk generasi yang berkualitas, yang juga memiliki pemahaman ideologis.
Rasulullah SAW bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara, waktu mudamu sebelum datang masa tuamu.” (HR. Al- Hakim dan al-Baihaqi).
Generasi mudah memiliki potensi luar biasa. Kekuatan fisik, puncak vitalitas, energi dan mental. Potensi pemuda Muslim yang dahsyat ini tentu hanya bisa diaktivasi dengan adanya pembinaan Islam Kaffah, membentuk cara berpikir dan berperilaku Islami sehingga terbangun kesadaran dalam diri generasi, bahwa Allah tidak menciptakan mereka sebagai sekedar untuk bersenda gurau belaka, tapi untuk menjadi orang yang bertakwa di muka bumi.
Allah SWT berfirman, “Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya aku hendak menjadikan seseorang khalifah di muka bumi.”(QS.Al-Baqarah: 30).
Pembinaan Islam kaffah juga akan mampu mencetak generasi pejuang layak untuk mengemban dakwah, untuk menegakkan kembali (Khilafah Islamiyah) akan menjadi perisai untuk melindungi generasi dan mengembalikan posisinya sebagai pemimpin peradaban yang mulia. Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab.






