Maulid Momentum Meneladani Metode Perjuangan Nabi SAW

Oleh: Sri Kurniati, SH (Aktivis Muslimah)

Setiap tahun kita memperingati hari lahir Nabi Muhammad Saw, namun sudahkah perayaan ini mengubah cara kita menghadapi tantangan hidup?

Memperingati Maulid bukan sekedar seremonial belaka, melainkan momen emas untuk membedah kembali strategi dan metode perjuangan beliau.

Perjuangan Nabi Saw, untuk mengubah kehidupan umatnya dari zaman kegelapan menuju zaman yg terang benderang, banyak mengalami ujian-ujian, dimana dimasa, beliau berjuang menegakan agama Allah SWT di Makkah.

Ujian beliau dalam berdakwah banyak mendapat hujatan dan pemboikotan oleh orang-orang kafir Qurais.

Ini menunjukkan bagaimana perjuangan nabi untuk memerangi kebatilan kaum kafir Qurais pada zaman itu.

Pada saat ini kita melihat lagi, kezaliman kaum kafir, yg saat ini terjadi dimasa zaman modern. Jangankan Kaum kafir, kaum muslim itu sendiri bagi yang munafik semakin berani berbuat kezaliman kepada agamanya. Di Palestina, Nepal India, Sudan dan masih banyak lagi saudara muslim kita yg tertindas. Apakah kita bisa melihat perjuangan nabi kita diteladani kaum muslim saat ini?

Realita kehidupan Modern saat ini, menutup mata sebagian dari kaum muslim didunia yg tidak menunjukkan rasa empati kepada saudara seimannya. Dimana kaum muslim saat ini telah tercerai berai, bagaikan buih dilautan, banyak tetapi tidak ada kekuatan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sayangilah penduduk bumi dengan setulus hati, maka penduduk langit akan menyayangimu dengan penuh Rahmat. (HR.Tirmidzi).

Dalam sabda beliau telah menegaskan, bahwasannya kita kaum muslimin adalah saudara, dimana kita merasakan sama sakit apabila saudara kita terzolimi dan begitu sebaliknya, kita merasa bahagia apabila, saudara seiman kita merasakan bahagia. Namun, kenyataannya rasa itu sangat sulit ditemukan dalam kehidupan hari ini, dimana banyak faktor yang mengakibatkan semua itu. Yaitu, sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan hari ini.

Hukum yang berlaku saat ini adalah hukum hasil pemikiran manusia, yang bukan membawa  kebahagiaan, kesejahteraan umat, tapi sebaliknya membawa kerusakan disetiap aspek kehidupan.

Nabi SAW telah memberikan contoh suri tauladan yang dimilikinya untuk menjadikan panutan  umat yg harus diterapkan, karena hukum Allah adalah Mutlak tidak bisa diubah-ubah sampai kapanpun. Maka apabila hukum Allah dicampakkan. akibatnya, seperti saat ini banyak kerusakan yang terjadi dimuka Bumi, baik aqidah dan akhlak yg dimiliki sebagian kaum muslim yg masih berat akan nafsu dunianya belaka.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia di antara kamu, adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari).

Yang terbaik diantara kamu adalah orang yang tidak menyakiti orang lain dengan lisan dan tangannya.

Dari Sabda Rasulullah SAW:

Kita bisa temukan, bagaimana kaum elite, para penguasa, pada saat ini. mereka lebih condong mementingkan kepentingan mereka sendiri, hidup dari pajak rakyat, bukankah kenyataannya di dalam Islam, umat adalah urusan Negara. umat menjadi prioritas yg dilindungi Negara, dari segala aspek, baik Sandang, pangan dan papannya, Disini khalifah adalah imam (pemimpin), ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Imam (Khalifah) adalah pemimpin, setiap pemimpin akan dimintai pertanggunjawaban atas kepengurusannya.” (HR. Bukhari).

Seharusnya sistem dari pemikiran manusia, perlu kita ubah kembali  ke hukum Allah SWT, dengan diterapkannya syariat Islam, banyak ayat Al-Qur’an yang memerintahkan umat Islam untuk selalu terikat dengan syariat Islam.

Allah SWT berfirman, “hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, sungguh setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (TQS. Al-Baqarah(2): 208).

Ayat ini mengajarkan kepada umat Islam untuk menjalankan Islam secara menyeluruh, mencakup semua aspek kehidupan, dan tidak memisahkan sebagiannya, misalnya politik dari Syariah.

Allah SWT berfirman, “Hendaklah kamu (Muhammad SAW) memutuskan perkara di antara mereka menurut Wahyu yang telah Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka untuk meninggalkan kebenaran yang telah datang kepada dirimu.”(TQS.al-Maidah(5): 48).

Ayat ini memerintahkan agar umat Islam menjadikan wahyu Allah SWT, sebagai pedoman dalam memutuskan segala urusan dan tidak mengikuti hawa nafsu atau keinginan pribadi.

Rasulullah SAW bersabda, “Berpegang teguhlah kalian pada sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian.”(HR. Abu Dawud dan at -Tirmidzi). Wallahu a’lam bishawwab.

News Feed