Oleh: Qomariah (Aktivis Muslimah)
Berdasarkan data hasil pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) kementerian per 1/1/2026, sekitar 27 juta lebih penduduk telah menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa. Hasilnya menunjukkan bahwa gejala depresi dan kecemasan pada kelompok anak sekolah dan remaja jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia.
Pemerintah mengambil langkah serius untuk menangani isu kesehatan mental anak, yang ditandai dengan penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB), tentang kesehatan jiwa anak oleh sembilan menteri dan kepala lembaga di jakarta, kamis.
Menteri koordinator bidang pembangunan manusia dan kebudayaan (Menko PMK) praktikno dalam rapat di kantor kemenko PMK jakarta, kamis.1 menjelaskan adanya urgensi luar biasa mengatasi isu kesehatan jiwa anak-anak indonesia menyoroti sejumlah kasus bunuh diri yang dilakukan anak dalam beberapa waktu terakhir serta kekerasan yang dilakukan anak terhadap orang tua.
Jadi tren kasus kesehatan jiwa ini terus meningkat pada anak. anak bunuh diri mengalami peningkatan, nanti detailnya akan disampaikan. kemudian kalau kita simak dari faktor risikonya, ini adalah multi-sektor tidak bisa ditangani oleh satu kementerian saja. jadi, makanya ibu menteri PPPA, pak menteri kesehatan, mengajak berbagai pihak untuk menangani mengenai kesehatan jiwa anak ini,” tutur menko praktikno. Antara (5/3/2026).
Training tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk mulai memperkuat layanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan tingkat pertama merespon hal ini, kemenkes kini telah menyusun tatalaksana pelayanan kesehatan jiwa, baik untuk pasien yang membutuhkan pengobatan maupun layanan psikologis.
Isu kesehatan mental di Indonesia belakangan memang ramai di perbincangkan, kondisi ini pada dasarnya dipicu oleh berbagai aspek. Yaitu; sosial -ekonomi, politik, pendidikan dan teknologi.
Menengok transaksi ekonomi negeri ini saja, tampak penurunan daya beli akibat harga barang dan jasa yang cenderung meningkat. Meski tatalaksana pelayanan kesehatan jiwa disusun, tetapi menyalami aspek pemicu dalam tataran sistemis juga tidak kalah urgent.
Melihat kondisi ini, tekanan mental akibat kebijakan negara yang gagal memberi jaminan pemenuhan kebutuhan asasi masyarakat. Di sini jelas bahwa masalah kesehatan mental bukan masalah personal semata, lantas bagaimana mengatasi masalah ini?
Di sisi lain, mereka membutuhkan solusi dari kepenatan ekonomi, sayang, solusi di luar sana benar-benar menggigit. Lintah darat merajalela, baik di dunia maya maupun nyata. Kondisi ini kian parah ketika masyarakat dibentuk menjadi konsumeris. di mana masyarakatnya tidak mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, sehingga gaya hidup benar-benar mencabut dari fitrah manusia. Realitas sosial ini tidak lepas dari kerja para arsitek kebijakan, kaum kapitalis, merekalah yang memborbardir masyarakat dengan gaya hidup yang konsumtif.
Inilah corak masyarakat yang hidup dalam sistem kapitalisme dan sekularisme, cara mereka berpikir dan beraktivitas, sadar atau tidak, masyarakat tidak boleh menganggapnya sebagai sesuatu yang alamiah, masyarakat dipaksa mengikuti ritme hidup ala kapitalisme yang menguras materi dan energi serta mengukur kesuksesan berdasarkan capaian materi yang dimiliki, sehingga membuat masyarakat itu lelah dalam hal apapun.
Hanya dalam sistem Islam (Khilafah), yang dapat memahami masalah kesehatan secara komprehensif dan sistemis, bahwa kesehatan jiwa terintegrasi dengan sistem dan tata aturan yang benar.
Sebab sistem Islamlah yang mampu mensolusi permasalahan kehidupan secara komprehensif, baik secara personal maupun sistemis. Oleh karena itu, Islam mengarahkan umatnya untuk mengukuhkan visi hidup sebagai jawaban simpul besar dalam menjalani hidup. Yaitu; dari mana manusia berasal, apa tujuan hidupnya, dan ke mana kelak manusia begitu meninggalkan dunia.
Tiga pertanyaan mendasar (uqdatul qubra) ini harus diurai manusia. Dengan menjawab tiga pertanyaan di atas manusia akan memahami tujuan hidup dan manfaat atas sebuah aktivitas yang dilakukannya.
Selain sebagai landasan dalam menjalani hidup, tiga pertanyaan ini juga menjadi penuntun dan penerang jalan bagi manusia.
Setelah mengurai simpul pertanyaan di atas, manusia yang telah memahami tujuan dan arah pandang dalam aktivitasnya akan memiliki visi hidup yang jelas, matang dan memiliki prinsip, sehingga setiap manusia diseru untuk senantiasa menciptakan ketenangan jiwa, melalui salat, dzikir atau berdoa.
Allah SWT berfirman; “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS.Ar-Ra’d:28).
Penjelasan ayat ini, Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia adalah bagian dari ketentuan Allah SWT. Tugas manusia adalah menerima ketetapan Allah SWT, meski demikian, menerima ketentuan Allah tidak bermakna pasrah. Sebaliknya manusia harus berikhtiar yang dapat membawa pada hasil yang diinginkan, inilah mekanisme Islam dalam mewujudkan kesehatan jiwa secara komprehensif. Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab.













