Oleh: Qomariah (Aktivis Muslimah)
Idul Fitri bukan hanya tentang kemenangan pribadi setelah Ramadan, tetapi juga tentang bagaimana umat Islam bersatu saling memaafkan dan menjaga kedamaian di tengah perbedaan.
Lebih dari 2,4 juta warga Palestina di jalur Gaza merayakan hari raya idul Fitri pada Jumat (20/3/2026) di tengah krisis kemanusiaan yang parah, dengan pembatasan ketat Israel, kehancuran infrastruktur, serta kekurangan pangan, air bersih, dan obat-obatan.
Kantor media pemerintah Gaza menyatakan, bahwa hari raya tahun ini berlangsung tanpa sukacita, karena sebagian besar keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, adapun lembaga tersebut mencatat, bahwa pasukan Israel telah melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sejak k Oktober 2025.
Pelanggaran itu berupa penembakan, serbuan darat, dan serangan udara yang telah menewaskan sedikitnya 677 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.800 lainnya, sebagian besar warga sipil, Minanews.net (26/3/2026).
Suasana Idul Fitri di Gaza Palestina masih bergelut menghadapi konflik dan blokade dalam kesengsaraan ini, warga Gaza mengalami kesedihan mendalam akibat perang yang terus berlanjut.
Sebagian warga menggelar salat Idul Fitri di Tanah kosong di Deir al-Balah, di tengah kehancuran ini adalah idul Fitri penuh duka, kata Adel Al- shaer, yang kehilangan 20 anggota keluarganya akibat serangan Israel.
Israel melanjutkan operasi militernya setelah gencatan senjata gagal, sementara bantuan kemanusiaan terhenti selama 4 Minggu. Untuk pertama kalinya masjid Al- Aqsa ditutup bagi jemaah muslim pada momen Idul Fitri, penutupan ini memicu kesedihan mendalam di kalangan warga Gaza Palestina yang selama puluhan tahun menjadikan kompleks tersebut sebagai pusat ibadah Idul Fitri.
Dilansir dari theguardian, Jumat (20/3/2026). Ratusan jemaah terpaksa melaksanakan salat di luar kawasan kota tua Yerusalem, setelah aparat Israel memblokade seluruh akses masuk ke komplek masjid.
Namun, banyak warga Gaza Palestina menilai penutupan tersebut sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperketat kontrol atas kawasan suci yang juga dikenal sebagai al- haram Al- Sharif.
Dalam beberapa bulan terakhir, situasi di sekitar kompleks Al- Aqsa semakin memanas. Penangkapan jemaah dan staf keagamaan meningkat, disertai pembatasan akses dan pengetatan keamanan di seluruh area kota tua. Aktivitas ekonomi warga pun terpukul, dengan sebagian besar tokoh dipaksa tutup menjelang Idul Fitri.
Di sisi lain, suasana Idul Fitri di Gaza juga dipenuhi kontras antara duka Dan harapan. Di tengah kehancuran akibat konflik berkepanjangan, warga tetap berupaya merayakan hari raya dengan segala keterbatasan. “Kegembiraan Idul Fitri tidak lengkap,” kata Sadeeqa Omar, seorang ibu yang mengungsi di Deir al-Balah.
Meski serangan tidak seinten sebelumnya, ancaman masih membayangi. Warga menghadapi keterbatasan pangan, kehilangan tempat tinggal, hingga perpisahan dengan anggota keluarga.
Di kamp- kamp pengungsian, tradisi tetap dijaga meski kesederhanaan. Aroma kue khas seperti cake dan maamoul masih tercium dari dapur darurat, menjadi simbol kecil ketahanan di tengah krisis.
Idul fitri dalam kondisi mengenaskan ini harusnya dirasakan sebagai penderitaan bagi seluruh kaum muslimin, seharusnya punya kepekaan nurani dan ketajaman akal mengapa umat ini terus-menerus ditimpa penderitaan yang tak pernah usai? Terutama genosida Muslim di Gaza oleh militer Yahudi, krisis di Sudan, derita muslim di India dan xinjiang, juga sejumlah persoalan di banyak negeri Muslim lainnya, sampai detik ini tak kunjung selesai.
Padahal ada dua miliar lebih muslim di dunia ini, kekayaan alam negeri-negeri Islam juga luar biasa. Dunia islam juga memiliki ratusan ribu bahkan jutaan tentara jika digabungkan, bisa menjadikan kekuatan yang menentukan arah dan nasib dunia. akan tetapi, realitasnya hari ini umat Islam sangat lemah, mereka seperti hewan ternak yang disembelih oleh berbagai bangsa, terutama negara-negara barat imperialis.
Ketiadaan Khilafah juga berimbas pada keleluasaan negara-negara imperialis Barat menjarah kekayaan alam dunia Islam untuk memperkaya diri mereka. Sebaliknya, mayoritas muslim pemilik kekayaan dibiarkan melarat, itulah yang terjadi pada negeri muslim saat ini.
Wahai kaum muslimin, jelaslah bahwa penyebab utama derita umat hari ini adalah ketiadaan Khilafah Islamiyah, sebagai perisai (pelindung) umat.
Rasulullah SAW bersabda, “sesungguhnya imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum muslim berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya,’’ (HR.al-Bukhari dan Muslim).
Khilafah menawarkan kerangka institusional kekuasaan yang nyata, dibawa kepemimpinan seorang Khalifah, inilah solusi yang hakiki untuk penyatuan umat Islam sedunia yang selama ini terpecah belah dalam negara-negara bangsa yang lemah dan saling terpisah.
Allah SWT berfirman, “Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah, dan jangan bercerai-berai.”(TQS. Ali Imran: 103)
Berdasarkan ayat ini, jelas kaum muslim lebih layak bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah daripada bersatu di bawah penjahat kafir, apalagi Khilafah menawarkan paradigma kebijakan luar negeri yang secara prinsipil berbeda dengan politik imperialis AS.
Oleh karena itu, sesungguhnya tidak ada pilihan lain bagi umat islam sedunia selain memperjuangkan tegaknya kembali sistem Islam (Khilafah) sebagai satu-satunya institusi pemerintahan Islam secara Kaffah, serta menebarkan rahmat bagi alam semesta. Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab.










