Generasi Muda Korban Konten Ramalan Tarot

Oleh: Muryani

Pada era yang penuh dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang, ternyata ramalan masih digemari oleh generasi muda.

Sebagian besar responden menganggap pembacaan kartu tarot dan astrologi sebagai hiburan belaka. Namun, 10% menganggapnya memberikan wawasan yang bermanfaat, bahkan 6% menjadikannya sebagai pertimbangan dalam membuat keputusan besar.

Tren ramalan juga terjadi di Indonesia. Seorang pembaca kartu tarot di Jakarta mengaku mayoritas kliennya adalah generasi muda.

Tren kartu tarot, astrologi, dan ramalan tidak lepas dari aspek bisnis. Lembaga riset pasar Daxue Consulting memprediksi nilai ekonomi pada bisnis ramalan mencapai 19 juta dolar AS (sekitar Rp318 miliar) dan akan terus tumbuh 10% setiap tahun. Sedangkan laporan Business Research Insight 2025 menyatakan bahwa pangsa pasar kartu tarot mencapai 650 juta dolar AS (sekitar Rp11 triliun) pada 2025.

Di Indonesia, bisnis kartu tarot menjanjikan keuntungan finansial. Untuk pembaca tarot pemula, tarif konsultasi adalah Rp50.000—Rp150.000 per sesi singkat (15—20 menit). Sedangkan tarif untuk pembaca tarot profesional mencapai Rp300.000—Rp1.000.000 per jam. Seorang pembaca kartu tarot di Jakarta mengaku memperoleh penghasilan belasan juta rupiah per bulan dari profesinya. Padahal membaca tarot hanya dilakukan pada jeda pekerjaan utamanya.

Perkembangan bisnis tarot banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi digital dan besarnya minat generasi muda. Konten-konten pembacaan tarot bermunculan di aplikasi digital yang banyak diakses generasi muda. Berbagai aplikasi tarot dan astrologi populer di AS sejak 2024, salah satunya adalah AstroClub. Spotify juga membuat siniar setiap hari berisi ramalan zodiak tentang prediksi karier, keuangan, kesehatan, cinta, dan spiritualitas kehidupan.

Ramalan dan kartu tarot pada generasi muda terjadi karena tatanan kehidupan sekuler yang mendominasi dunia saat ini telah menjauhkan generasi muda dari ajaran Islam. Ketika menghadapi kehidupan yang sulit, banyak dari mereka yang mencari sarana pelepasan stres dan inspirasi solusi melalui ramalan. Mereka menaruh harapan masa depan melalui kartu tarot dan astrologi.

Agama tidak lagi mereka jadikan tempat berlabuh bagi jiwa yang lelah mengarungi kehidupan. Banyak generasi muda justru mencari peruntungan melalui simbol-simbol di kartu dan horoskop yang notabene buatan manusia yang sama-sama “buta” terhadap masa depan.

Mengapa generasi muda lebih memilih percaya pada ramalan daripada ajaran agama? Di satu sisi mereka memang dibuat tidak kenal terhadap agamanya sendiri. Pelajaran agama di sekolah hanya diberikan dalam porsi minimal sehingga sangat tidak mencukupi untuk mengenal Islam secara utuh sebagai sebuah ajaran hidup yang menyolusi problem generasi. Di sisi lain, kartu tarot dan astrologi dipromosikan secara gencar melalui dunia digital yang generasi muda adalah sasarannya.

Sekularisme merusak akidah umat Islam karena hanya meyakini Allah Taala sebagai Al-Khaliq (Maha Pencipta), tetapi tidak sebagai Al-Mudabbir (Maha Pengatur). Islam hanya dipahami sebatas akidah ruhiyah (spiritual), bukan akidah siyasiyah (politik). Islam dipahami hanya mengatur ibadah ritual dan akhlak. Sedangkan pada aspek pakaian, makanan, muamalah, dan ukubat tidak menggunakan aturan Islam. Padahal, Islam adalah agama yang lengkap  dan sempurna.

Kondisi akidah generasi muslim yang berada di pinggir jurang kemusyrikan ini tidak lepas dari abainya negara terhadap urusan akidah. Negara sekuler kapitalis menempatkan akidah sebagai urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri oleh pihak lain, termasuk negara. Negara membolehkan orang beriman sebagaimana negara juga membolehkan orang musyrik, bahkan murtad.

Negara tidak mengurusi akidah rakyat. Generasi muda mau berbuat syirik atau murtad, negara akan membiarkan. Hal ini tampak dalam seruan pluralisme dan moderasi yang terus digaungkan struktur negara, baik melalui sistem pendidikan maupun media.

Percaya terhadap ramalan atau sekadar menjadikannya hiburan, adalah wujud pelemahan akidah sekaligus upaya mengerdilkan fungsi akal pada generasi muslim. Akibatnya, akan lahir generasi yang kehilangan sikap  kritis dan analisis  Kemampuan mereka mengurai persoalan dan menemukan akar masalahnya akan melemah sehingga menjadi generasi yang lemah dan pasrah pada ramalan, enggan melakukan upaya perubahan.

Selain itu, generasi muslim juga dibuat tidak paham tujuan hidupnya. Poin-poin dalam ramalan, seperti karier, keuangan, cinta, dll. menggambarkan bahwa generasi muda terobsesi pada standar kesuksesan semu ala kapitalisme. Seolah-olah indikator sukses adalah kaya, memiliki karier cemerlang, dan memiliki pasangan yang menyenangkan. Semua standar sukses tersebut hanya bervisi dunia dan mengesampingkan kehidupan akhirat. Ridha Allah tidak dianggap sebagai sebuah tujuan besar yang harus diraih.

Kondisi ini diperparah dengan kegagalan kapitalisme dalam menyejahterakan rakyat. Berbagai kesulitan hidup contoh: bencana ekologis, ketidakadilan, suramnya ekonomi, sulitnya mencari pekerjaan, dll. sebagai dampak penerapan kapitalisme berkelindan dengan minimnya pemahaman agama menjadikan generasi muda jatuh dalam lubang klenik.

Sistem sekuler kapitalisme juga telah memandulkan fungsi keluarga dan masyarakat sebagai penjaga generasi. Proses pembinaan akidah dan ketakwaan tidak terwujud dalam keluarga karena pola pikir sekuler yang mendominasi. Masyarakat dalam sistem kapitalisme dan individualis, amar makruf nahi mungkar terhadap generasi tidak berjalan. Jadilah generasi kehilangan semua perlindungan, baik dari keluarga, masyarakat, maupun negara.

Artinya kartu tarot, astrologi, dan segala jenis ramalan adalah tradisi kuno yang tidak memiliki basis ilmiah sehingga tidak layak diyakini dalam kehidupan. Namun, digitalisasi telah mengemas klenik ini menjadi seolah-olah modern dan menjadi bagian dari ilmu pengetahuan, sehingga digandrungi generasi muda. Padahal, pada saat yang sama, generasi muslim telah menjadi korban digitalisasi ramalan online yang membahayakan akidah dan arah hidup mereka.

Islam memosisikan akidah (keimanan) sebagai perkara yang sangat penting, bahkan terpenting. Allah Taala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad), Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Siapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan Hari Akhir sungguh ia telah tersesat sangat jauh.” (QS An-Nisa’ [4]: 136).

Posisi akidah Islam sebagai dasar negara menjadikan negara (Khilafah) akan menganggap penting perkara akidah umat dan senantiasa beraktivitas untuk menjaga akidah tersebut. Khilafah akan melarang praktik-praktik yang membahayakan akidah, termasuk ramalan.

Aktivitas ramal-meramal merupakan sesuatu yang diharamkan dalam Islam. Masa depan merupakan perkara gaib yang hanya Allah Taala yang mengetahuinya. Allah Taala berfirman:  “Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.’” (QS An-Naml [27]: 65).

Seorang muslim yang mendatangi peramal tidak akan diterima salatnya selama 40 hari. Mendatangi dan membenarkan peramal bisa berakibat kekufuran. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al-Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR Ahmad no. 9532).

Karena hukumnya haram, ramalan tidak boleh dijadikan bisnis. Khilafah akan melarang bisnis, profesi, konten, platform, media, maupun permainan yang terkait ramalan, baik di dunia nyata maupun dunia digital. Khilafah akan mewujudkan kedaulatan digital sehingga tidak dimasuki oleh platform dan konten yang haram, termasuk ramalan.

Negara menjaga akidah generasi muslim melalui sistem pendidikan berbasis akidah Islam. “Kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah Islam. Mata pelajaran serta metodologi penyampaian pelajaran seluruhnya disusun tanpa adanya penyimpangan sedikit pun dalam pendidikan dari asas tersebut.” Negara menyebarkan para ulama ke seluruh penjuru negeri untuk membina akidah umat dan mengajarkan tentang syariat sehingga umat paham tentang qada dan kadar, serta tidak akan mempercayai ramalan lagi.

Negara Khilafah juga akan menerapkan politik ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan tiap-tiap rakyat. “Politik ekonomi dalam Islam adalah menjamin pemenuhan semua kebutuhan primer setiap individu maupun kebutuhan-kebutuhan sekundernya sesuai dengan kadar kemampuannya sebagai individu yang hidup dalam suatu masyarakat dengan gaya hidup tertentu.” Negara akan menjamin tiap-tiap individu rakyat laki-laki dewasa memiliki pekerjaan sebagai sumber nafkah bagi diri dan keluarganya. Dengan demikian, generasi muda tidak akan galau lagi dengan masa depannya.

Negara Khilafah akan membina generasi muda dengan ideologi Islam dan mengarahkan potensinya untuk peradaban Islam sehingga cahaya Islam terpancar ke seluruh penjuru dunia sebagai rahmatan lil alamin. Wallahualam bissawab