Bukan Sekadar Seremoni: Mengawal SKB Kesehatan Jiwa sebagai Amanah Konstitusi dan Agama

Oleh: Oktiwi Rani Kasmir

Pemerintah mengambil langkah serius untuk menangani isu kesehatan mental anak, yang ditandai dengan penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak oleh sembilan menteri dan kepala lembaga di Jakarta, Kamis.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dalam rapat di Kantor Kemenko PMK Jakarta, Kamis, menjelaskan adanya urgensi luar biasa mengatasi isu kesehatan jiwa anak-anak Indonesia, menyoroti sejumlah kasus bunuh diri yang dilakukan anak dalam beberapa waktu terakhir serta kekerasan yang dilakukan anak terhadap orang tua.

Krisis kesehatan jiwa semakin meningkat termasuk yang melibatkan kejiwaan anak. Yang mana, hal ini adalah dampak sistem kehidupan yang tegak hari ini. Sistem kehidupan sekuler liberal yang mencetak generasi bermental lemah dan rapuh. Generasi yang merasa dirinya terhimpit dari berbagai sisi oleh tekanan hidup yang tengah dijalani. Yang tentu penyebab terbesarnya karena sistem seluruh liberal yang mengaruskan kehidupan generasi menjadi terhimpit dari berbagai lini kehidupan.

Selain Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi, turut hadir Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, dan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji, serta perwakilan Kapolri yang ikuti melakukan penandatanganan.(Sumber. ANTARA 05/05/26).

Paradigma dan nilai-nilai Islam yang seharusnya menjadi patokan atau pedoman hidup dalam menjamin kebaikan hidup masyarakat khususnya generasi menjadi lebih baik. Justru pemahaman islam di tengah masyarakat semakin tergerus oleh nilai-nilai sekuler liberal disertai dengan hegemoni media kapitalisme global. Media yang menyuguhkan tayangan nir-faedah pengrusak akidah umat dan menormalisasi tayangan yang bertentangan dengan aturan Islam.

Sedangkan, pendidikan di keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan dalam lingkungan masyarakat tidak berpijak pada akidah dan syariat Islam. Sehingga, menjauhkan individu atau generasi dari pemahaman islam dan parameter kesuksesan diukur dari kesuksesan yang bersifat materi. Semakin banyak materi yang dihasilkan maka akan dinilai semakin sukses hidupnya.

Sehingga, hal ini akan mudah membuat generasi hari ini yang merasa hidupnya terhimpit ditambah dengan menilai dirinya tidak sukses dengan patokan kesuksesan hari ini yang dinilai dari materi. Generasi hari ini akan merasa gagal dalam hidupnya atau tekanan hidup lainnya sangat mudah membuatnya menyerah dan mencari jalan pintas penyelesaian masalah melalui bunuh diri.

Maka, Sistem sekuler liberal kapitalistik inilah yang menjadi biang kerok kerusakan masyakat termasuk generasi penerus bangsa. Sistem ini sudah seharusnya menjadi musuh bersama bagi masyarakat. Selama sistemnya masih tegak, maka selama itu pula kerusakan di negeri ini akan tetap terjadi dan semakin membuat kerusakan yang lebih dalam kehidupan masyarakat.

Tidak dipungkiri bahwa pangkal dari semua ini adalah karena diterapkannya sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal dalam berbagai aspek kehidupan. Sistem yang mendewakan kebebasan dan menjadikan kebahagiaan berdasarkan capaian materi ini terbukti telah melahirkan individu-individu yang ketakwaannya lemah, masyarakat yang jauh dari nilai-nilai kebaikan, asing dengan tradisi amar makruf nahi mungkar; serta negara yang abai terhadap tupoksinya sebagai pengurus dan penjaga umat, baik dalam urusan dunia, apalagi urusan akhirat rakyat.

Hal itu tersebab sekularisme yang melandasinya yang memang menolak kehadiran agama sebagai tuntunan kehidupan. Akibatnya, lahirlah berbagai aturan kehidupan yang serba rusak dan merusak. Alih-alih mampu menyolusi berbagai problem kehidupan manusia, aturan-aturan tersebut justru terus memproduksi masalah baru yang tidak pernah mampu diselesaikan. Penerapan sistem politik ekonomi kapitalisme, misalnya, telah melahirkan gap sosial yang sedemikian lebar. Si kaya makin kaya, si miskin makin miskin. Kekayaan hanya beredar pada sebagian kecil orang, sedangkan kemiskinan menimpa mayoritas rakyatnya dan membuat rapuh pertahanan keluarga-keluarga muslim.

Bertolak belakang dengan sekularisme, Islam menjadikan umat makin dekat dengan agamanya. Tanpa agama, manusia akan tersesat di dunia. Agama adalah pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Dengan paham agama, mereka akan memahami hakikat kehidupan. Manusia adalah seorang hamba yang memiliki tugas di dunia untuk beribadah kepada Penciptanya.

Dengan memahami tujuan penciptaan semata untuk beribadah kepada Allah Taala, seorang muslim akan terdorong untuk terus beramal saleh. Keimanan yang tertanam akan menjadikan manusia-manusia penuh dengan ketakwaan dan kasih sayang. Para ayah dan ibu akan benar-benar menyayangi anak-anaknya, begitu pula sebaliknya.

Sedangkan negara akan menjamin keimanan dan ketakwaan tumbuh kuat dalam diri kaum muslim. Inilah yang menjadi pangkal solusi bagi persoalan kriminalitas. Bangunan keluarga akan kukuh dan para anggotanya akan memahami hak dan kewajibannya. Negara juga akan menjaga fungsi dan peran keluarga tersebut agar sesuai syariat.

Negara akan menghadang masuknya pemahaman-pemahaman sekuler kapitalistik untuk merasuki umat seperti paham materialistis, hedonistik, juga kesetaraan gender. Sebaliknya, negara akan terus memberikan pemahaman akan pentingnya hidup sederhana dan bukan berfokus pada materi, melainkan pada amal saleh untuk bekal akhirat.

Penerapan sistem Islam juga akan meringankan beban orang tua. Pasalnya, sistem Islam akan menyediakan pendidikan islami yang berkualitas dengan cuma-cuma dan membendung semua ideologi rusak masuk ke tengah umat.

Oleh karenanya, hendaknya seluruh keluarga muslim menguatkan tekad dan bergandengan tangan bersama mengembalikan tegaknya aturan Islam sehingga tercapai kebahagiaan hakiki dalam naungan Khilafah Islamiah.

Dalam Khilafah, jangankan nyawa dan kehormatan manusia, nasib seekor keledai pun amat diperhatikan oleh pemimpin. Ini sebagaimana perkataan Khalifah Umar bin Khaththab ra. yang masyhur, “Jika ada anak domba mati sia-sia di tepi Sungai Eufrat (di Irak), sungguh aku takut Allah akan menanyaiku tentang hal itu.”

Demikianlah keunggulan sistem kehidupan Islam. Masihkah berharap pada sistem sekuler kapitalisme yang sungguh telah gagal melindungi rakyatnya?

Inilah saatnya keluarga muslim berjuang bersama untuk mewujudkan sistem kehidupan yang unggul dalam institusi Khilafah. Hanya dengan Khilafah, seluruh aturan Islam akan bisa tegak di muka bumi ini.

Hanya dengan penerapan syariat Islam secara kafah, potret buram anak-anak muslim akan berubah menjadi ceria. Ini semua hanya akan terwujud jika Khilafah tegak.

Khilafah adalah ajaran Islam. Umat Islam wajib untuk menegakkannya. Khilafah bahkan dikatakan sebagai taaj al-furuudh (mahkota kewajiban). Oleh karenanya, setiap keluarga muslim harus terlibat dalam upaya mewujudkan kembali Khilafah. Wallahualam bissawab.