Oleh: Qomariah (Aktivis Muslimah)
Meski Ramadhan telah usai, berbagai kenikmatan dan keutamaan yang Allah hamparkan sepanjang bulan Ramadhan kini sudah terhenti. namun, ketakwaan tentu harus terus disemai.
Bahwa ketakwaan itu bukan hanya ada pada bulan Ramadhan saja, tetapi ketakwaan kehidupan umat itu ada di sepanjang zaman, karena kesuksesan seorang muslim yang bertahan dalam ketakwaannya. Yaitu, amal-amal ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima.
Sebaliknya, jika ketakwaan ikut pudar bersama berakhirnya Ramadhan, itu tanda amal-amalnya selama bulan Ramadhan tertolak. Sebaliknya, siapa saja yang melakukan setelahnya malah dia ikut dengan kejelekan, maka itu tanda kebaikan tersebut tertolak dan tidak diterima oleh Allah.”(Ibnu Rajab,Lathaa’if al-Ma’aarif, hlm. 222).
Muslim yang sebelum dan sesudah Ramadhan sama saja sama-sama mengabaikan ketaatan kepada Allah SWT, ada atau tidak adanya Ramadhan tidak berdampak apapun kepada mereka, manusia dalam kelompok ini adalah yang paling celaka. Hati mereka telah terkunci akibat banyaknya perbuatan dosa yang mereka lakukan.
Adapun seorang muslim yang sebelum Ramadhan jauh dari Allah SWT, dan sering mengabaikan ibadah. Akan tetapi ketika Ramadhan tiba mereka bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah shaum, tadarus, tarawih, sepanjang Ramadhan, lalu saat bulan mulia itu berlalu, rangkaian amal saleh itu kembali menghilang. Merekalah yang termasuk golongan yang disebut sebagai hamba Ramadhan, mereka baru mau mendekati Allah hanya pada bulan Ramadhan saja.
Sedangkan muslim yang sebelum Ramadhan memang sudah dekat dengan Allah SWT, mereka selalu bersungguh-sungguh menjalankan aturan Allah, begitu saat datang bulan Ramadhan ketaatan mereka semakin bertambah, usai Ramadhan pun mereka tetap bekerja keras menjaga ketaatan tersebut. Inilah golongan yang beruntung karena mereka terus-menerus memelihara ketakwaan mereka sepanjang tahun.
Allah SWT berfirman. “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil) kepada kalian, menghapus segala kesalahan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah memiliki karunia yang besar.”(TQS. al-Anfal(8):29).
Oleh karena itu siapa saja yang menginginkan amal-amalnya sepanjang Ramadhan tetap diterima oleh Allah SWT. ia harus merawat dan mewujudkan ketakwaan hakiki dalam dirinya.
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang mencari ridho Allah meski dia harus dimurkai oleh manusia, maka Allah akan menjaga dirinya dari gangguan manusia. Siapa saja yang mencari ridho manusia tetapi dengan membuat Allah murka, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada manusia.”(HR. at- Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Maka dalam hadis ini menjadikan Ridha Allah sebagai tujuan tertinggi dalam hidupnya, serta mewujudkan rasa takut hanya kepada Allah SWT, sehingga seorang muslim akan terjaga dari perbuatan maksiat.
Sebagai hamba Allah yang diberi akal, maka bersegeralah menerima Islam secara Kaffah dan beserta aturan Allah SWT, yang akan selalu berusaha khusyuk dalam beribadah, sekaligus berusaha sungguh-sungguh menjalankan hukum-hukum Islam dalam bidang sosial. Ekonomi, hukum, militer, politik, pemerintah, dll.
Allah SWT berfirman, “apakah kalian mengimani sebagian al-kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian Di Antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat. (TQS. Al-Baqarah (2): 85).
Hendaklah seseorang tidak menunda-nunda mengerjakan amal saleh, terutama amal-amal yang wajib, nabi SAW memerintahkan kita agar bersegera dalam mengerjakan amal saleh sebelum datang fitnah yang menyulitkan kehidupan kita. Seperti, mustahil mencapai derajat takwa, sementara masih setia bersekutu dengan kaum kuffar. seperti, zion*s Yahudi dan AS.
Seseorang juga harus bersabar dalam ketaatan, untuk menjadi hamba Allah yang bertakwa, juga tak lepas dari berbagai ujian. Termasuk cemoohan dan permusuhan dari kaum kuffar dan kaum fasik. Ini bisa terjadi pada zaman yang tidak bisa terbayangkan lagi, bagaimana bisa menjaga agama. Kecuali dengan kesabaran yang besar.
Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman saat orang yang berpegang teguh pada agamanya. Seperti “orang yang menggenggam bara api.”(HR. At-Tirmidzi).
Semoga Allah SWT mengokohkan diri kita dalam keimanan dan ketakwaan demi memperjuangkan serta menegakkan syariat Islam secara Kaffah dalam institusi pemerintahan (Khilafah islamiyah). Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab.






