Oleh : Jumiliati
‘’BOP, benarkah solusi yang tepat untuk perdamaian Pelestina?” Dari langit Gaza yang berkabut, cerita lama kembali di kemas dengan sampul baru agar lebih menarik. Mungkin begitu ungkapan yang cocok untuk gebrakan baru AS untuk solusi Palestina.
Dikutip dari laman berita online setkab.go.id_ Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menyampaikan optimistis kuat terhadap tercapainya perdamaian di Gaza usai menandatangani Board Of Peac (BOP) Charter yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Optimistisme tersebut disampaikan Presiden Pranowo dalam keterangannya kepada awak media di David, Swiss, pada Kamis 22 Januari.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengatakan bahwa ini adalah kesempatan bersejarah dan merupakan peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza, beliau juga menambahkan bahwa penderitaan rakyat Gaza sudah berkurang, bantuan kemanusiaan begitu deras dan sudah masuk ke Gaza.
Mungkin kah BOP merupakan solusi terbaik untuk Gaza, ? tentu saja harus kita lihat kenyataan nya dilapangkan. Update terbaru Gaza pada 10 Februari kemarin, serangan udara oleh Israel menewaskan tiga warga Palestina yang berada di sebuah apartemen di wilayah utara jalur Gaza. Lalu apa hasil dari BOP yang digadang-gadang sebagai solusi perdamaian Palestina. Mungkinkah para pemimpin muslim telah lupa bagaimana Israel yang selalu melanggar hukum internasional? Apa mereka telah lupa bagaimana biadabnya Genosida yang telah dilakukan Israel di Gaza?
Di saat Palestina terus diserang oleh kebiadaban Israel salah satu pemimpin muslim asyik menyamakan BOP dengan perjanjian Hudaibiyyah, perlu diketahui bahwa perjanjian Hudaibiyyah dilakukan sebelum terjadi perang, ia adalah strategi sebelum perang yang dilakukan Rasulullah yang mencoba bernegosiasi agar tidak terjadi perang dan berakhir futuhat jika pihak musuh mau tunduk pada aturan Islam namun apabila kubu musuh tidak mau tunduk pada aturan islam maka perang tetap dilakukan sebagai solusi terakhir. Tentu ini bertujuan untuk menghindari pertumpahan darah. Sementara BOP dibentuk dan sepakati setelah tragedi Genosida yang telah menewaskan jutaan warga Palestina.
Tentu hal bodoh jika menyamakan BOP dengan perjanjian Hudaibiyyah, bukankah Allah SWT menegaskan pada Al – Qur’an surat Al- Baqarah ayat 190 perangilah dijalan orang-orang yang memerangi kamu, dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Bila berkaca pada firman Allah seharusnya yang dilakukan para pemimpin muslim adalah memerangi Israel agar tak lagi menggenosida Palestina, bukan malah berjabat tangan bersama Israel dalam satu organisasi. Perlu kita ketahui bahwa Israel juga tergantung didalam BOP, dan berjabat tangan dengan musuh Palestina adalah sebuah pengkhianatan terbesar terhadap Palestina.
Selagi para pemimpin muslim tetap pada pengingkaran pada perintah Allah dengan tidak memerangi Israel, maka perdamaian Palestina masih sangat jauh untuk dijangkau. Karena melihat sejarah pada pembebasan Palestina di masa lalu adalah dengan memerangi Yahudi, seperti yang telah dilakukan oleh Salahuddin Al Ayyubi dan kholifah Sayidina Umar bin Khattab, meskipun pada masa Umar bin Khattab tidak terjadi perang namun kekuasaan dan kekuatan militer muslim pada massa itu mampu menaklukkan Romawi dengan ditandai dengan penyerahan kunci kota Yerusalem oleh Uskup Sophronius disertai penandatanganan Jaminan Umar yang memberikan perlindungan keamanan dan kebebasan beragama bagi umat Nasrani.
Sesungguhnya sesuatu yang saat ini dibutuhkan untuk membebaskan Palestina bukanlah dengan Bergabung dengan BOP karena masih berada dibawah naungan Amerika yang merupakan pendukung setia Israel. Yang dibutuhkan saat ini adalah menyatukan kembali umat muslim dalam satu komando untuk dapat memerangi dan Israel dari tanah para nabi pada masa lalu, hanya dengan bersatunya kembali umat muslim kita bisa mengulang sejarah untuk membebaskan Palestina dengan tentara muslim yang menggetarkan musuh-musuh Islam. Wallahu ‘alambisshowab.













