oleh

Muhammad Hidayat, Gugur di Tes Polisi, Kini Jadi Security di UPGRI Palembang

Securitynews.co.id, PALEMBANG − Menjadi seorang satpam bukan tujuan akhir perjalanan hidup namun menjadi bekal akhir dari hidup. Demikian kata salah satu Satpam UPGRI Palembang, Muhammad Hidayat (30) warga 7 Ulu Lr. Garuda I Palembang. Walaupun dirinya dulu pernah gugur diperjalanan mengikuti tes menjadi seorang polisi, tidak menjadikan dirinya patah arang, maka timbullah motto perjalanan hidupnya yakni ‘Berdiri walaupun perih’.

Muhammad Hidayat mengatakan, masuk kerja di UPGRI Palembang bukan melalui Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUJP) namun masuk melalui umum. Sebelumnya dirinya merupakan alumni SMA di sana tamatan tahun 2008, tahun 2010 langsung kerja.

“Tahun 2010 kerja di UPGRI Palembang. Setelah 1 tahun kerja di lembaga pendidikan ini, kuliah juga di Universitas PGRI Palembang yakni di jurusan bimbingan konseling S1 angkatan tahun 2011. Tahun 2015 saya diwisuda, jadi sambil kerja saya kuliah di sini,” ujar bujangan ini.
Muhammad Hidayat melanjutkan, pada saat tahun 2010 masuk kerja, 2016 dari lembaga pendidikan UPGRI Palembang mengirimkan Diksar. Waktu itu, diksarnya di PT Duta di Pusri, sekitar 1 bulan digembleng. Tenaga pendidiknya dari Polda Sumsel. Pengalaman kerja sudah 10 tahun.

“Diksar itu yang dilatihkan PBB, latihan borgol, terus silat, fisik pengetahuan, mengenai tenang keamanan ini. Pokoknya banyak selama mengikuti pelatihan diksar. Kemarin dapat messnya di daerah Pakjo, pelatihan di daerah Arhanud,” aku pria yang memiliki tinggi 189 cm ini.
Disoal selama menjadi keamanan di Universitas PGRIM Palembang, apa saja suka yang dialaminya, Hidayat mengutarakan, mengenai suka banyak yang didapatkannya mulai dari pendidikan kuliah, selama 4 tahun mendapatkan pendidikan S1. Untuk meningkatkan kinerja. “Masalah dukanya saya menjadi termotivasi. Karena itu kembali lagi kepada pribadi masing-masing bagaimana cara kita sebagai kesatuan pengamanan di UPGRI Palembang, seperti banyaknya SDM, dari mahasiswa dan pegawai. Di sini kami bertugas bagaimana cara pengamanan yang baik mulai dari luar lingkup kampus maupun dari inventaris yang diberi tanggung jawab kepada kami,” paparnya.

Dia melanjutkan, selama jadi Danru, membawahi anggota seluruhnya ada 37 orang itu semua dibawahi oleh 3 Danru (komandan regu), saya di ships pagi, siang dan malam, 3 kali rolling. “Suka duka selama 10 tahun apa yang menjadi kenangan baik suka maupun duka, seperti penah saya mengikuti tes menjadi seorang polisi namun gugur diperjalanan, makanya itu menjadi salah satu motto saya seperti ‘berdiri walaupun perih’”, jelas Dayat.

Masih menurut Dayat, mengenai dampak Covid-19, seperti sudah menjalankan imbauan dari pihak pemerintah dan kepolisian beserta TNI dan jajaran lainnya. “Kita harus membatasi dan menjaga jarak untuk mencegah wabah Covid ini, seperti Sosial Distancing dan surat edaran pemerintah rencana pemberlakuan PSBB. “Selama Covid ini kita tetap bekerja seperti biasa, namun aktivitas keramaian yang kita kurangi, selama lockdown,” pungkasnya.

Laporan : Syarif
Editor/Posting : Imam Ghazali

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed