Kabut Asap Karhutla Pembawa Petaka

Oleh : Suciyati
Situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia belum banyak berubah yang ditandai kemunculan kasus-kasus kematian warga diduga akibat asap serta sorotan aktor sekaligus pegiat lingkungan Leonardo DiCaprio.
Dua warga di lokasi terpisah di Sumatra dan Kalimantan—yang terdapat banyak titik api—diduga meninggal akibat asap karhutla.

Di sisi lain, Leonardo Dicaprio dalam unggahan terbaru di Instagram, menyoroti karhutla Indonesia. Dalam takarir ia sebut “lebih dari lima juta orang telah terdampak asap karhutla”.
Sejauh ini, belum ada laporan resmi jumlah warga yang meninggal akibat asap karhutla.
Namun, indeks kualitas udara sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan dilaporkan pada fase “membahayakan” yang berdampak pada kesehatan warga secara serius.

Beberapa hari terakhir, indeks kualitas udara di sejumlah titik terdampak karhutla di Sumatra dan Kalimantan masuk level tertinggi “sangat berbahaya bagi kesehatan”.
Kondisi mata pedih seperti disiram pasir, hidung dan tenggorokan terus berlendir atau kering gatal, kondisi yang hampir dialami seluruh warga terdampak.

Bagi kelompok rentan seperti yang punya penyakit bawaan, situasi ini sangat berbahaya. Kasus-kasus warga kehilangan nyawa diduga akibat asap terus bermunculan.
Sebuah riset menunjukkan, paparan partikel berbahaya dari asap yang intens berkaitan dengan sekitar 33.100 kematian prematur orang dewasa dan 2.900 bayi.
Baru-baru ini, organisasi masyarakat sipil melaporkan pola berulang karhutla bukan semata faktor cuaca, tapi “akumulasi krisis” akibat lemahnya perlindungan dan tata kelola ekosistem gambut.
Analisis citra satelit yang dikelola menunjukkan hampir sepertiga titik sumber asap berada di wilayah konsesi perusahaan.

Di sisi lain, pemerintah dan aparat penegak hukum mengklaim telah mengusut pembakaran lahan dan hutan yang dilakukan perorangan maupun korporasi.
‘Saat bangun pagi, langsung sesak napas’ – Pengemudi ojol di Palembang meninggal
Bendera kuning terpancang di sekitar Jalan Mataram di Kertapati, Palembang, Sumatra Selatan.
Simbol ini menjadi penanda kepergian pengemudi ojek online, Hardiansyah, setelah mengeluh sesak napas dan asmanya kambuh saat bangun pagi, Jumat (02/10).
Istrinya, Rika Yunita Sari, menceritakan ulang hari kelam keluarganya itu.
Sekitar pukul 07.00 WIB, Hardiansyah baru saja membuka mata. Tapi, Rika melihat ketidakwajaran dari suara napas suaminya yang punya riwayat penyakit asma.
Napasnya lebih tidak beraturan.
Rika panik. Ia segera mengajak mertua serta anaknya membawa Hardiansyah ke rumah sakit.
“Tidak sempat lagi kasih obat. Sudah panik dan langsung ke RS Bari Palembang,” kata perempuan 39 tahun saat ditemui di kediamannya, Senin (05/10). Di hari itu, ia yakin asap karhutla benar-benar sudah membekap di dalam rumah.
Jarak rumah sakit memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit. Tapi pagi itu lalu lintas padat, sehingga waktu perjalanan makin bertambah. Rika melihat napas suaminya semakin tersenggal-senggal. Ia berkejaran dengan waktu.
Setibanya di RS Bari Palembang, pria 41 tahun ini sempat mendapat pemeriksaan. Tapi sekitar pukul 08.30 WIB, tim medis menyatakan nyawa Hardiansyah tak tertolong.
Hardiansyah meninggalkan istri, satu orang putra berumur 18 tahun dan putri berusia 14 tahun.
Rika mengaku suaminya punya riwat asma sejak lahir. Kondisi kabut asap membuatnya berkali-kali kesulitan bernapas. Batuk dan tenggorokan terasa gatal.
Kondisi asmanya sempat memburuk pada 15 September 2026 seiring kabut asap pekat di Kota Palembang. Saat itu kondisinya bisa teratasi dengan konsumsi obat dan inhaler dari dokter.
Rika bilang, selama musim asap karhutla, suaminya sering mengeluh. Tiap pulang batuknya jadi lebih sering.
“Tetap bawa obat dan pakai masker kalau bawa motor, tapi kalau bawa mobil tidak pakai masker,” ucapnya.
“Saya hanya ibu rumah tangga saja, sudah lama berhenti bekerja. Sekarang rencana ke depan belum terpikir, tapi mau tidak mau harus bekerja lagi,” kata lulusan pendidikan bidan ini.
Pada Jumat sore setelah azan Ashar, jenasah Hardiansyah langsung dikebumikan di pemakaman dekat rumahnya.
Berita kematian Hardiansyah ini viral di media sosial. Sebagian warganet meyakini kematian pengemudi ojol berkaitan langsung dengan asap karhutla.
Asap karhutla di Sumsel berdampak hampir di seluruh kabupaten/kota. Data Sipongi Kemenhut, menunjukkan jumlah titik panas sebanyak 2.041 per 6 Oktober 2026. Asap terbanyak berasal dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
Di sisi lain, data kualitas udara versi Kementerian Lingkungan Hidup pukul 15.00 WIB di tanggal yang sama menunjukkan asap di Sumsel masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya. Khusus Palembang menduduki di posisi tertinggi dengan nilai ISPU 832, yang berarti berbahaya.
Di tengah situasi ini, ratusan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di kantor Pemprov Sumsel pada Senin (05/10). Mereka menuntut pemerintah segera mengatasi karhutla dan dampaknya.
Tuntutan yang sama dilontarkan Rika Yunita Sari. Ia ingin tak ada lagi korban-korban lainnya, terutama kelompok rentan seperti anak dan lansia.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta masyarakat tidak mudah menyimpulkan penyebab kematian seseorang tanpa pembuktian yang valid. Komentar ini menanggapi adanya seorang warga Palembang, Hardiansyah (41), meninggal dunia diduga akibat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Deru mengaku belum dapat memberikan komentar banyak terkait kematian Hardiansyah. Menurut dia, diperlukan pemeriksaan medis menyeluruh terlebih dahulu sehingga dapat diketahui penyebab pastinya.
“Untuk yang meninggal, saya tidak bisa membenarkan atau menolak, sebab penyebab meninggal harus autopsi,” ungkap Gubernur Sumsel Herman Deru, Senin (5/10/2026).
Deru mengatakan, dirinya telah menginstruksikan seluruh bupati dan walikota untuk menyiagakan pelayanan puskesmas 24 jam bagi pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Pemerintah juga memberlakukan pengobatan gratis untuk meringankan beban masyarakat.
‘Tolong jaga anakku’ – Guru meninggal di Banjarmasin
Seorang guru sekolah dasar (SD) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas di tengah kabut asap yang menyelimuti kota pada akhir September.
Ia punya riwayat asma, yang menurut keluarganya, semakin sering kambuh selama periode tersebut.
“Tolong jagakan anak ulun (saya).”
Itu pesan terakhir Lisna, guru SDN Tanjung Pagar 3, kepada ibunya, Marhamah, Sabtu malam (26/09).
Siang harinya, Lisna masih ngobrol seperti biasa. Tidak ada tanda yang berbeda dari kesehariannya. “Habis magrib, masih sehat,” kata Marhamah.
Sekira pukul 21.00 WITA, Lisna mulai mengeluhkan sakit di dada. Napasnya kembang-kempis.
Lisna kemudian dibawa ke RSUD Ansari Saleh Banjarmasin. Menurut keluarga, sebelum sempat menjalani pemeriksaan lebih lanjut, Lisna dinyatakan meninggal dunia.
Kepergian Lisna merupakan kisah pilu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh keluarga.
Riset: Asap karhutla menyebabkan ribuan orang cepat meninggal
Sejauh ini belum ada pencatatan resmi kematian warga yang diduga berkaitan dengan asap karhutla. Tapi sebuah penelitian menunjukkan asap karhutla di Sumatra dan Kalimantan yang mengandung partikel halus berkaitan dengan kematian dini.
Studi yang diterbitkan jurnal Environmental Healthpada 2022 menunjukkan asap karhutla dapat menyebabkan beban kesehatan yang sangat besar.
Jurnal yang ditulis peneliti dari Wageningen University and Research Centre, Lars Hein dkk. menyebutkan rata-rata setiap tahun asap karhutla di Sumatra dan Kalimantan berkontribusi pada sekitar 33.100 kematian dini orang dewasa, 2.900 kematian bayi, 4.390 rawat inap akibat penyakit pernapasan, serta 635.000 kasus serangan asma berat pada anak.
Angka kematian ini adalah estimasi permodelan, bukan hasil pencatatan langsung.
Salah satu poin terpenting dari riset bertajuk Dampak Kesehatan Kebakaran Gambut di Indonesia, menyebutkan dampak kesehatan dari asap karhutla tidak hanya terjadi pada periode kehadiran kabut asap yang pekat.
Penelitinya berargumen kebakaran berulang tiap tahun meningkatkan paparan PM2.5 jangka Panjang. PM2.5 adalah partikel sangat halus yang bisa masuk jauh ke paru-paru dan aliran darah.
Paparan jangka panjang diketahui memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap mortalitas dibanding episode singkat polusi ekstrem.
Sorotan aktor Leonadro DiCaprio
Leonardo DiCaprio lewat akun Instagram @leonardodicaprio mengunggah video pendek terkait karhutla di Indonesia, Sabtu (03/10).
Video ini dimulai dengan sorotan seekor orangutan bergelayutan, terjebak di atas pohon dengan asap kebakaran yang mengambang di sekitarnya.
“Darurat: Kalimantan sedang kebakaran, lebih dari setengah populasi dunia orangutan Kalimantan dalam bahaya,” tulis video tersebut.
“Orangutan Kalimantan terlihat melarikan diri dari hutan yang terbakar seiring hilangnya habitat mereka. Orangutan ini diselamatkan BKSDA di Kalimantan Tengah dengan dukungan BOS Foundation, dan kini berada dalam perawatan dokter hewan,” tulis DiCaprio dalam takarir.
Peraih Piala Oscar itu bukan hanya menyinggung dampak kebakaran satwa liar, tapi pada warga. Ia menyebut lebih dari lima juta orang telah terpapar asap kebakaran hutan.
Per Senin (05/10), unggahan ini mendapat 245.000 suka dan 16.300 kali dibagikan. Kolom komentarnya ditutup, tapi banyak media nasional mengunggah kembali video tersebut.
Banyak kritik dari warganet atas penanganan karhutla, termasuk mempertanyakan apakah Indonesia masih layak menjadi paru-paru dunia?
Dalam ulasan yang ditulis Kompas.com, pemeran utama film Titanic ini bukan pertama kali memberi perhatian pada hutan Indonesia.
Ia pernah menghabiskan akhir pekan di Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatera, bersama aktor Adrien Brody dan Fisher Stevens, dan bertemu tiga orangutan Sumatera di stasiun penelitian taman nasional tersebut.
Kunjungan itu berlangsung satu dekade lalu. Yayasan miliknya disebut menyumbangkan Rp269 miliar (kurs terkini) untuk pemulihan lingkungan Pulau Sumatera.
Efek kabut asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan saat musim kemarau sangatlah berbahaya bagi kesehatan. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan asma, gangguan pernapasan, bahkan serangan jantung.
Selain kebakaran hutan, kabut asap juga dapat disebabkan oleh asap pabrik dan kendaraan bermotor. Asap tersebut mengandung berbagai gas berbahaya, seperti karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), sulfur oksida (SO2), senyawa organik volatil (VOC), dan ozon.
Tak hanya gas, kabut asap juga mengandung partikel berbahaya berupa debu, asap, atau kotoran. Hal inilah yang membuat efek kabut asap bisa berdampak buruk bagi kesehatan.
efek kabut asap bagi kesehatan:
1. Meningkatkan risiko terjadinya gangguan paru-paru
2. Menyebabkan batuk dan iritasi tenggorokan
3. Meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung
4. Menyebabkan iritasi mata
5. Meningkatkan risiko terkena kanker paru-paru
6. Menimbulkan iritasi dan peradangan kulit
Kapitalisasi sistem kesehatan sekular kapitalistik sudah tampak jelas merugikan rakyat dan melahirkan pelayanan yang nirempati, oleh karena itu, sangat diperlukan adanya perubahan paradigma sistem jaminan kesehatan Islam. Kesehatan dalam ajaran Islam, adalah hak dasar bagi setiap warga negara. Oleh karena itu, pemerintah memikul tanggung jawab penuh untuk menyediakan layanan kesehatan gratis dan bermutu tinggi sebagai amanah dari Allah Swt.
Kewajiban ini muncul sebab posisi penguasa ditetapkan sebagai pengurus (ra’in) rakyatnya. Sebagaimana tercantum dalam kitab Mashrū‘ Dustūr pasal 164, “Negara menyediakan seluruh pelayanan kesehatan secara cuma-cuma bagi semua orang’. Cara pandang pengayoman (ra’awiyah) tersebut mewajibkan pemerintah memenuhinya secara menyeluruh, mulai dari penyiapan sumber daya manusia di bidang kesehatan hingga pemenuhan fasilitas serta sarana dan prasarana penunjangnya. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah Saw., “Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Landasan ini menuntut Khilafah menyelenggarakan pelayanan medis secara maksimal demi menunaikan kewajiban agama kepada publik. Pelayanan kesehatan standar tinggi akan dihadirkan secara merata di berbagai pelosok daerah tanpa membeda-bedakan warga dan bebas biaya. Langkah ini menjadi bentuk nyata tanggung jawab negara dalam menjaga keselamatan jiwa (Hifdzul Nafs) yang merupakan salah satu tujuan syariat (maqāṣid al-syarī’ah). Ketentuan tersebut searah dengan sabda Rasulullah saw.: Laa dharara wa laa dirara, yang artinya “Janganlah membahayakan pada diri sendiri, dan jangan pula membahayakan orang lain” (HR. Ibnu Majah dan Daruquthni).
Sistem kesehatan dalam Islam yang diberikan secara optimal tersebut, tentunya tidak dapat dilepaskan dari sistem ekonomi yang menopang pelaksanaan pemenuhannya. Khilafah ditunjang oleh tata ekonomi Islam yang menjamin ketersediaan dana pendukung. Ketetapan syariat mengenai berbagai pemasukan negara yang masuk ke Baitul Mal menjadikan Khilafah sanggup memfasilitasi pelayanan medis yang optimal secara merata, termasuk membiayai pendidikan kedokteran yang bermutu tanpa membebankan biaya kepada rakyat. ***

News Feed