Oleh : Mariyani Arthami (Dosen FKIP Unsri)
Setiap 28 Oktober, kita memperingati Sumpah Pemuda. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa yang lahir pada 1928 menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun dari keberanian melampaui perbedaan.
Namun hampir seabad setelah ikrar itu, muncul pertanyaan penting: apakah semangat persatuan masih hidup dalam kepedulian kita terhadap sesama?
Pertanyaan itu sangat relevan dengan tema Sumpah Pemuda 2026: “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia.”
Menurut Dosen FKIP Universitas Sriwijaya yang juga Mahasiswa Doktoral S3 Universitas Pendidikan Indonesia, Mariyani Arthami, tiga nilai tersebut bukan sekadar rangkaian kata indah. “Patriotisme menuntut tindakan nyata, kegigihan membutuhkan konsistensi, dan empati mengajak kita memahami kehidupan dari sudut pandang orang lain. Tanpa diwujudkan, nilai kebangsaan berisiko berhenti sebagai slogan tahunan,” ujarnya.
TAHU TAPI TIDAK PEDULI
Mariyani menilai, kita hidup di era informasi berlimpah. Berita tentang bencana, kerusakan lingkungan, dan kesulitan masyarakat hadir setiap hari di media sosial. Namun, mengetahui penderitaan orang lain tidak selalu membuat kita peduli.
Salah satu contoh nyata adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Bagi sebagian orang, karhutla mungkin hanya berita tentang api dan kabut asap. Tapi bagi masyarakat terdampak, ini soal kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ia mempertanyakan, apakah kita memandang penderitaan warga terdampak karhutla sebagai persoalan bersama, atau sekadar urusan orang jauh. “Jika kita meyakini Indonesia satu tanah air dan satu bangsa, kepedulian seharusnya tidak berhenti pada batas wilayah tempat kita tinggal,” tegasnya.
EMPATI KRITIS, BUKAN SEKADAR KASIHAN
Mariyani menjelaskan, empati memiliki makna lebih luas dari sekadar rasa kasihan. Ia mengutip Nicole Mirra dalam buku Educating for Empathy: Literacy Learning and Civic Engagement (2018) tentang pentingnya critical civic empathy. “Empati kritis adalah empati yang disertai kesadaran terhadap kondisi sosial yang membentuk pengalaman orang lain. Kita tidak cukup prihatin, tapi perlu memahami penyebabnya, mendengarkan kebutuhan mereka, dan memikirkan tindakan yang bisa dilakukan,” jelasnya.
Empati, lanjutnya, juga tidak berarti harus selalu setuju. Empati dimulai dari kesediaan mendengarkan dan memahami sebelum menilai, agar perbedaan pendapat tidak menghilangkan rasa hormat.
DARI REAKSI SESAAT MENJADI AKSI NYATA
Tantangan terbesar, menurut Mariyani, adalah mengubah kepedulian menjadi tindakan. Pemuda bisa berperan melalui edukasi lingkungan, penyebaran informasi yang benar, dukungan kepada kelompok rentan, serta penyampaian aspirasi secara bertanggung jawab. “Teknologi digital memberi ruang luas. Namun banyaknya unggahan, komentar, atau tanda suka tidak selalu menunjukkan persoalan itu benar-benar dipahami atau membawa perubahan,” ujarnya.
Kepedulian, kata dia, perlu melampaui reaksi sesaat. Tidak semua orang harus menyelesaikan persoalan besar, tapi bisa berkontribusi sesuai kemampuan. “Dalam kasus karhutla, partisipasi masyarakat tidak menggantikan kewajiban pemerintah untuk pencegahan, pengawasan, dan penegakan hukum,” tegasnya.
Karena itu, mengajak pemuda berempati bukan berarti menyerahkan seluruh beban bangsa kepada mereka. Yang dibutuhkan adalah generasi muda yang peka sekaligus kritis, serta ruang partisipasi yang memadai.
PATRIOTISME YANG MEMBUMI
Mariyani menegaskan, patriotisme perlu dimaknai lebih dekat dengan keseharian. Mencintai Indonesia bukan hanya bangga terhadap simbol dan sejarah, tapi peduli terhadap manusia yang hidup di dalamnya. “Kecintaan terhadap tanah air tercermin dalam kesediaan menjaga lingkungan, menghormati hak orang lain, membantu sesama, dan tidak menutup mata terhadap persoalan bersama,” katanya.
Kegigihan mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu cepat, sementara empati memberi alasan mengapa kita perlu terus berupaya. “Ketika ketiganya berjalan bersama, semangat kebangsaan tidak berhenti pada kebanggaan masa lalu, tetapi menjadi kekuatan untuk memperbaiki kehidupan bersama,” ujarnya.
Pada peringatan Sumpah Pemuda tahun ini, ia mengajak semua pihak bertanya: bagaimana membuat persatuan itu terasa dalam kehidupan masyarakat. “Sebab persatuan tidak cukup diikrarkan, persatuan harus terasa dalam kepedulian. Indonesia bukan hanya tentang tanah yang kita pijak, tapi tentang manusia yang hidup di dalamnya,” pungkasnya. ***













