Securitynews.co.id, PALEMBANG- Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI) menggelar 17 th Annual Meeting of Indonesian Society of Intensive Care Medicine (ISICM) 2026 di Hotel Aryaduta Palembang, Jalan POM IX, Palembang Square, Lorok Pakjo, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, Jumat (11/9/2026).
Kegiatan ilmiah tahunan tersebut menjadi ajang bagi para dokter dan tenaga medis untuk memperbarui pengetahuan serta berbagi perkembangan terbaru dalam penanganan pasien kritis, termasuk kasus sepsis yang masih menjadi salah satu tantangan besar dalam pelayanan intensive care.
Ketua PERDICI Wilayah Sumatra Selatan, Dr. dr. Zulkifli, Sp.An-TI, Subsp. TI(K), M.Kes, MARS, yang juga merupakan dokter spesialis anestesi dan konsultan intensive care di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, mengatakan kegiatan tersebut digelar setelah dirinya mendapat amanah dari Ketua Umum PERDICI untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan annual meeting di Palembang.
Menurutnya, annual meeting merupakan kegiatan ilmiah rutin yang digelar setiap tahun oleh organisasi dokter intensive care. “Tahun ini kebetulan Palembang menjadi tuan rumah. Sebelumnya kegiatan ini juga pernah dilaksanakan di Palembang pada 2018,” ujar Zulkifli.
Ia menjelaskan, perkembangan ilmu kedokteran intensive care terus mengalami kemajuan. Karena itu, para dokter yang menangani pasien kritis dituntut untuk terus mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi terbaru. “Ilmu ICU itu selalu berkembang sangat cepat. Karena itu, harapannya rekan-rekan dokter terus mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah secara berkala sehingga informasi dan perkembangan terbaru bisa terus didapatkan,” katanya.
Sementara itu, Ketua PERDICI periode 2022-2025, Dr. dr. Erwin Pradian, Sp.An-KIC, KAR, M.Kes, mengatakan salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam penanganan pasien kritis adalah sepsis.
Sepsis merupakan kondisi serius yang terjadi ketika infeksi memicu respons tubuh secara berlebihan hingga menyebabkan gangguan fungsi organ. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kegagalan multi-organ dan meningkatkan risiko kematian pasien. “Kalau untuk sepsis, sebetulnya ini sering menyebabkan kematian pada pasien-pasien yang dirawat. Berawal dari infeksi yang kemudian berdampak pada organ dan akhirnya menyebabkan kegagalan organ,” jelas Erwin.
Menurut Erwin, penanganan sepsis membutuhkan kecepatan dan ketepatan sejak awal pasien mendapatkan pertolongan. Berbagai pedoman dan rekomendasi internasional terus dikembangkan untuk membantu tenaga medis dalam menentukan tata laksana pasien sejak satu jam pertama hingga perawatan secara menyeluruh.
Ia menambahkan, masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda awal kondisi yang dapat mengarah pada sepsis. “Cirinya bisa dimulai dari gangguan napas, kemudian gangguan hemodinamik seperti tekanan darah, gangguan kesadaran, hingga akhirnya terjadi gangguan pada organ-organ lainnya,” ujarnya.
Selain kegiatan ilmiah, PERDICI juga akan menggelar kegiatan Sepsis Run sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai sepsis.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana edukasi kepada masyarakat bahwa sepsis merupakan kondisi serius yang membutuhkan penanganan segera. “Tujuannya memberikan informasi kepada masyarakat bahwa ada sesuatu yang disebut sepsis dan ini juga perlu diketahui oleh masyarakat,” kata Erwin.
Ia berharap kegiatan ISICM 2026 tidak hanya menjadi forum pertemuan para dokter intensive care, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas pelayanan terhadap pasien kritis di Indonesia. “Harapannya rekan-rekan yang bekerja di ICU terus mengikuti perkembangan ilmu, karena ilmu intensive care berkembang sangat cepat. Dengan mengikuti kegiatan ilmiah secara berkala, informasi terbaru bisa terus diterapkan dalam pelayanan kepada pasien,” pungkasnya.
Laporan : Sandy
Posting : Imam Gazali








